Kurikulum Merdeka dan Tantangan Menjaga Kedalaman Berpikir Kritis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Kurikulum Merdeka membawa semangat pembaruan yang menekankan kebebasan dan kebermaknaan dalam belajar. Di balik semangat tersebut, tersimpan tantangan serius dalam menjaga kedalaman berpikir kritis peserta didik. Kebebasan sering kali dimaknai sebagai ruang tanpa batas, padahal nalar kritis justru membutuhkan batas konseptual yang menantang. Tanpa kedalaman, proses belajar mudah terjebak pada aktivitas yang menarik tetapi miskin refleksi. Kurikulum Merdeka menuntut kesadaran bahwa berpikir kritis bukan sekadar keterampilan, melainkan kebiasaan intelektual. Kebiasaan ini dibangun melalui proses yang berlapis dan berulang. Tantangan terbesarnya adalah menjaga agar kebebasan tidak menggerus kedalaman berpikir. Di sinilah kualitas implementasi diuji secara nyata.
Dalam praktiknya, aktivitas belajar sering berfokus pada pengalaman langsung. Pengalaman memang penting, tetapi tanpa pengolahan konseptual, pengalaman hanya menjadi peristiwa. Nalar kritis menuntut kemampuan menghubungkan pengalaman dengan prinsip yang lebih luas. Kurikulum Merdeka perlu memastikan bahwa setiap pengalaman diikuti dengan analisis dan refleksi. Tanpa proses tersebut, pengalaman tidak bertransformasi menjadi pengetahuan. Kedalaman berpikir lahir dari proses pengolahan ini.
Tantangan berikutnya adalah kecenderungan menyederhanakan materi demi aksesibilitas. Penyederhanaan memang dapat membantu pemahaman awal, tetapi jika berlebihan, ia menghilangkan kompleksitas yang diperlukan untuk berpikir kritis. Peserta didik perlu diperkenalkan pada persoalan yang tidak memiliki jawaban tunggal. Kurikulum Merdeka seharusnya memberi ruang bagi eksplorasi kompleksitas tersebut. Kedalaman berpikir tumbuh dari keberanian menghadapi ketidakpastian.
Selain itu, kedalaman berpikir kritis sangat bergantung pada kualitas pertanyaan. Pertanyaan yang dangkal hanya memicu jawaban deskriptif. Kurikulum Merdeka perlu mendorong penggunaan pertanyaan analitis dan evaluatif. Pertanyaan semacam ini memaksa peserta didik menelusuri alasan dan implikasi. Tanpa pertanyaan yang menantang, proses berpikir akan berhenti di permukaan. Kedalaman membutuhkan dorongan yang tepat.
Aspek refleksi juga memegang peran kunci dalam menjaga kedalaman berpikir. Refleksi yang bermakna bukan sekadar mengulang apa yang telah dilakukan, melainkan menilai bagaimana pemahaman terbentuk. Kurikulum Merdeka perlu memfasilitasi refleksi yang menyingkap proses berpikir. Peserta didik diajak mengenali perubahan cara pandang mereka. Tanpa refleksi mendalam, proses belajar kehilangan kontinuitas.
Kedalaman berpikir kritis juga dipengaruhi oleh keberanian menghadapi perbedaan pandangan. Kurikulum Merdeka membuka ruang dialog, tetapi dialog tidak selalu diarahkan pada pendalaman argumen. Perbedaan sering disikapi secara permukaan demi menjaga harmoni. Padahal, pendalaman perbedaan justru memperkaya nalar kritis. Kurikulum Merdeka perlu menegaskan bahwa perbedaan adalah sumber belajar.
Pada akhirnya, menjaga kedalaman berpikir kritis menjadi tantangan utama Kurikulum Merdeka. Kebebasan dan fleksibilitas hanya bermakna jika menghasilkan pemahaman yang mendalam. Nalar kritis tumbuh melalui proses yang menuntut keseriusan intelektual. Jika kedalaman ini terjaga, Kurikulum Merdeka dapat menjadi fondasi pembentukan generasi yang reflektif dan berdaya pikir tinggi.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah