Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar: Sejauh Mana Efektivitasnya?
Kurikulum Merdeka, yang digulirkan sebagai respons terhadap tantangan pembelajaran modern, telah menjadi topik perbincangan hangat di kalangan pendidik sekolah dasar. Dengan janji untuk memberikan keleluasaan lebih besar bagi guru dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kondisi lokal, kurikulum ini diharapkan mampu memicu lahirnya generasi yang lebih kreatif, kritis, dan mandiri. Namun, setelah beberapa tahun implementasinya, pertanyaan mendasar mulai mengemuka: apakah tujuan mulia ini benar-benar tercapai di tingkat akar rumput?
Di satu sisi, banyak sekolah melaporkan dampak positif, terutama melalui penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Siswa tidak lagi hanya terpaku pada buku teks, melainkan terlibat langsung dalam proyek-proyek nyata seperti mengelola bank sampah, membuat pertunjukan seni budaya lokal, atau melakukan riset sederhana tentang lingkungan sekitar. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan keterampilan kolaborasi dan pemecahan masalah. Para guru yang inovatif merasa mendapatkan ruang untuk bereksperimen dengan metode mengajar yang lebih menyenangkan dan relevan.
Namun, di sisi lain, tantangan besar masih membayangi. Kesenjangan kompetensi guru menjadi isu krusial; tidak semua pendidik siap untuk beralih dari pengajaran yang terstruktur ketat ke model yang lebih fleksibel. Selain itu, keterbatasan sumber daya di sekolah-sekolah daerah terpencil seringkali membuat implementasi pembelajaran berbasis proyek menjadi sulit. Tanpa pelatihan yang merata dan dukungan fasilitas yang memadai, ada kekhawatiran bahwa Kurikulum Merdeka hanya akan efektif di sekolah-sekolah yang sudah mapan, dan justru memperlebar jurang kualitas pendidikan nasional.