Kurikulum Tersembunyi: Mengubah Kebun Sekolah Menjadi Laboratorium Karakter
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sejumlah
sekolah dasar di Kota Surabaya mulai mengintegrasikan program "Edible
Garden" atau kebun sayur mandiri ke dalam jadwal pelajaran mingguan
sebagai upaya konkret mewujudkan sekolah ramah lingkungan tahun ini. Di tengah
gempuran digitalisasi yang membuat anak-anak semakin terasing dari alam, siswa
kini diajak kembali menyentuh tanah dan memahami siklus hidup pangan secara
langsung sejak awal semester. Program ini dirancang bukan sebagai beban
akademik tambahan, melainkan sebagai ruang bernapas bagi siswa untuk
menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap alam yang
seringkali terputus di area perkotaan yang padat.
Pakar
pendidikan menyebut inisiatif ini sebagai hidden curriculum atau
kurikulum tersembunyi yang sangat efektif dalam membentuk karakter tanpa
melalui indoktrinasi verbal. Melalui kegiatan menanam, menyiram, hingga
memanen, siswa secara natural belajar mengenai konsep kesabaran, tanggung
jawab, dan dampak nyata dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Data lapangan
menunjukkan bahwa siswa yang terlibat aktif dalam pengelolaan kebun sekolah
cenderung lebih menghargai makanan dan secara signifikan mengurangi sisa limbah
organik dalam bekal mereka. Mereka memahami bahwa setiap helai sayur
membutuhkan proses panjang dan energi alam yang luar biasa, sebuah pelajaran
moral yang tidak mungkin didapatkan hanya dari membaca buku teks di dalam
kelas.
Implementasi
kebun sekolah ini juga menjadi jembatan bagi berbagai disiplin ilmu, mulai dari
biologi, matematika untuk menghitung jarak tanam, hingga seni rupa dalam menata
taman. Pendekatan interdisipliner ini membuat pembelajaran menjadi lebih
bermakna dan aplikatif bagi siswa sekolah dasar yang masih berada dalam tahap
berpikir konkret. Guru bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan rasa
ingin tahu siswa saat mereka menemukan serangga atau perubahan warna pada daun,
menjadikan setiap jengkel tanah di sekolah sebagai ensiklopedia hidup. Hal ini
menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan sehingga nilai-nilai ramah
lingkungan terserap tanpa adanya rasa keterpaksaan.
Selain
manfaat pedagogis, keberadaan kebun di lingkungan sekolah memberikan kontribusi
positif terhadap iklim mikro dan kualitas udara di sekitar ruang kelas.
Tanaman-tanaman hijau yang tumbuh subur berfungsi sebagai filter udara alami
dan penyerap panas, menciptakan suasana belajar yang lebih sejuk dan nyaman
bagi siswa. Dalam jangka panjang, sekolah yang hijau terbukti mampu menurunkan
tingkat kecemasan pada anak dan meningkatkan fokus belajar mereka. Investasi
pada lahan hijau di sekolah adalah investasi pada kesehatan fisik dan mental
generasi mendatang yang kini semakin rentan terhadap stres lingkungan
perkotaan.
Langkah
ini membuktikan bahwa sekolah ramah lingkungan bukan hanya soal fasilitas fisik
yang canggih, melainkan soal pengalaman sensorik yang membekas kuat dalam
memori emosional anak. Penanaman nilai ini diharapkan mampu terbawa hingga ke
lingkungan rumah, di mana siswa menjadi agen perubahan yang mendorong orang tua
mereka untuk mulai berkebun atau minimal mengelola sampah organik. Ketika
seorang anak menolak membuang makanan karena ia tahu sulitnya merawat tanaman
dari benih hingga panen, itulah kemenangan sejati dari pendidikan ekologi.
Transformasi perilaku ini adalah tujuan akhir dari setiap kebijakan lingkungan
yang diterapkan di institusi pendidikan.
Namun,
keberlanjutan program ini memerlukan komitmen kolektif dari seluruh pemangku
kepentingan, termasuk dukungan dana dari komite sekolah dan pendampingan teknis
dari ahli pertanian lokal. Tantangan seperti keterbatasan lahan di perkotaan
harus dijawab dengan kreativitas, misalnya melalui penggunaan sistem hidroponik
atau vertikultur yang tetap melibatkan interaksi siswa. Kolaborasi dengan
komunitas lokal juga dapat memperkaya materi pembelajaran, seperti mengundang
petani untuk berbagi pengalaman tentang kearifan lokal dalam menjaga kesuburan
tanah. Pendidikan harus keluar dari sekat dinding kelas dan menyatu dengan
detak jantung alam semesta.
Sebagai
kesimpulan, kebun sekolah adalah simbol dari harapan akan masa depan yang lebih
hijau dan manusiawi di tengah krisis iklim global. Dengan memegang cangkul dan
menyentuh tanah, siswa belajar tentang kerendahan hati dan ketergantungan
manusia pada alam semesta yang harus dijaga. Ke depan, kebun sekolah diharapkan
menjadi standar wajib dalam infrastruktur pendidikan nasional, bukan hanya
sebagai pelengkap estetika, tetapi sebagai jantung dari pendidikan karakter
berbasis lingkungan. Melalui benih yang ditanam oleh tangan-tangan kecil siswa
hari ini, kita sedang menanam masa depan Indonesia yang lebih lestari dan
berdaulat secara pangan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah