Kurikulum yang Adaptif: Mengintegrasikan AI-STEM ke dalam Budaya Lokal Nusantara
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Tantangan
terbesar integrasi AI dalam STEM di SD Indonesia adalah bagaimana menjaganya
agar tetap relevan dengan konteks budaya lokal Nusantara dan tidak menjadi
bentuk "kolonialisasi digital" baru pada tahun 2025. Banyak konten AI
STEM yang dikembangkan secara global mengacu pada konteks barat, sementara
Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang sangat kaya untuk dijadikan
bahan ajar sains dan rekayasa. Tantangan etika ini menuntut kreativitas para pengembang
kurikulum dan guru SD untuk mampu melakukan "Indonesianisasi"
terhadap teknologi AI, menjadikannya jembatan untuk melestarikan pengetahuan
lokal melalui pendekatan teknologi mutakhir.
Secara
teoretis, pembelajaran yang kontekstual adalah kunci dari efektivitas
pendidikan dasar. AI dapat digunakan untuk membantu siswa memodelkan sistem
irigasi subak di Bali, menghitung kekuatan struktur rumah panggung tahan gempa,
atau menganalisis kandungan kimia tanaman obat tradisional melalui data besar (big
data). Data riset S2 Pendidikan Dasar Unesa menunjukkan bahwa siswa lebih
cepat memahami konsep STEM ketika objek yang dibahas adalah sesuatu yang mereka
temui dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya. Inilah peluang besar bagi
AI: menjadi alat yang menduniakan kearifan lokal Indonesia melalui simulasi
digital yang canggih dan edukatif bagi generasi muda.
Analisis
terhadap materi ajar menunjukkan bahwa tanpa upaya sinkronisasi budaya,
anak-anak Indonesia berisiko kehilangan keterikatan dengan akar sejarahnya
sendiri saat mereka asyik berinteraksi dengan AI. Guru bertindak sebagai
jembatan yang membawa nilai-nilai filosofis lokal ke dalam setiap proyek STEM
digital. Misalnya, dalam proyek robotika, siswa diajarkan prinsip gotong royong
dalam pembagian tugas kelompok, sebuah nilai luhur yang tidak akan ditemukan
dalam algoritma AI manapun. Sekolah dasar harus menjadi tempat persemaian
karakter bangsa yang modern namun tetap bangga akan jati dirinya sebagai orang
Indonesia di tengah arus globalisasi digital yang kian kencang.
Tantangan
etika muncul ketika AI menyajikan informasi yang bertentangan dengan
nilai-nilai budaya atau sejarah lokal akibat bias data pelatihan mesin yang
berasal dari luar negeri. Guru harus memiliki kemampuan kritis untuk mengoreksi
dan memberikan perspektif alternatif kepada siswa, menjadikan kelas sebagai
ruang diskusi kritis yang dinamis. Kemampuan membandingkan solusi modern AI
dengan solusi tradisional nenek moyang akan melatih kearifan berpikir siswa
dalam memilih teknologi yang paling tepat bagi lingkungannya. Integrasi AI-STEM
yang adaptif budaya akan melahirkan inovator yang tidak hanya cerdas secara
teknis, tetapi juga memiliki cinta yang mendalam terhadap tanah airnya.
Lebih
lanjut, pemerintah perlu mendukung pengembangan "Local AI Content"
yang berbasis pada kurikulum nasional dan kearifan lokal Nusantara. Kerjasama
dengan universitas dan pakar budaya diperlukan untuk menyusun basis data
pengetahuan lokal yang bisa dikonsumsi oleh mesin AI pembelajaran. Dengan
memiliki kontrol atas konten, kita dapat menjamin bahwa teknologi digital yang
masuk ke ruang kelas benar-benar mendidik dan membangun identitas bangsa.
Inovasi teknologi tidak boleh membuat kita menjadi asing di negeri sendiri,
melainkan harus memperkuat posisi kita di panggung dunia melalui keunikan
budaya yang kita miliki.
Sebagai
penutup, adaptasi budaya dalam integrasi AI-STEM adalah kunci bagi lahirnya
generasi emas yang berkarakter dan berdaya saing global bagi masa depan
Indonesia. Kita harus menyadari bahwa kemajuan teknologi haruslah seiring
dengan penguatan jati diri bangsa yang tidak boleh luntur oleh arus zaman. Mari
kita gunakan AI sebagai alat untuk mengangkat kearifan lokal kita ke kancah
dunia melalui pendidikan STEM yang cerdas dan berbudaya. Dengan cara ini,
anak-anak Indonesia akan tumbuh menjadi inovator yang bijaksana, yang mampu
membangun bangsa dengan teknologi modern namun tetap berakar kuat pada
nilai-nilai luhur Nusantara yang abadi.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah