Latihan Puasa Sunnah: Mengenalkan Doa Buka Puasa Rajab pada Siswa SD Kelas Tinggi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Bulan Rajab menjadi momen istimewa bagi guru Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar untuk mengenalkan konsep puasa sunnah kepada siswa kelas tinggi (kelas 4, 5, dan 6). Berbeda dengan puasa Ramadan yang wajib, puasa Rajab dikenalkan sebagai latihan sukarela untuk melatih pengendalian diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam pembelajarannya, guru mengajarkan lafal spesifik doa buka puasa Rajab yang sedikit berbeda variasinya, namun tetap memiliki inti permohonan penerimaan amal ibadah. Siswa diajak untuk mencatat doa tersebut, menghafalkannya, dan memahami arti setiap kalimatnya agar ibadah yang dilakukan tidak kosong makna.
Tantangan mengajarkan puasa sunnah kepada anak SD tentu tidak mudah, mengingat aktivitas fisik mereka di sekolah yang cukup padat. Oleh karena itu, guru memberikan pendekatan yang fleksibel dan bertahap. Siswa yang belum kuat puasa penuh diperbolehkan puasa setengah hari (puasa bedug) sebagai bentuk latihan. Yang terpenting bagi guru adalah menanamkan niat dan semangat untuk mencoba. Saat waktu istirahat tiba, siswa yang berpuasa dikumpulkan di perpustakaan atau musala untuk melakukan kegiatan ringan seperti membaca buku kisah nabi, menghindarkan mereka dari godaan melihat teman lain yang sedang makan di kantin. Kebersamaan ini menguatkan tekad mereka untuk menuntaskan puasa hingga waktu berbuka tiba.
Momen mempelajari doa buka puasa menjadi sangat krusial karena di situlah letak puncak kebahagiaan orang yang berpuasa. Guru mensimulasikan suasana berbuka puasa bersama di kelas sore hari bagi siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Saat azan berkumandang melalui aplikasi di ponsel guru, siswa dipimpin untuk membaca doa buka puasa dengan lantang dan khidmat secara bersama-sama. Suasana syahdu dan penuh rasa syukur tercipta, mengajarkan siswa bahwa kenikmatan sepotong kue atau seteguk air menjadi berkali lipat rasanya setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Pengalaman spiritual ini membekas dalam memori siswa dan membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang lebih bersyukur.
Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengajarkan sejarah Islam terkait peristiwa Isra Mi'raj yang terjadi di bulan Rajab. Guru mengaitkan amalan puasa dan doa tersebut dengan peristiwa penting tersebut, memberikan konteks sejarah yang memperkaya wawasan keagamaan siswa. Dengan demikian, pelajaran agama di SD tidak menjadi doktrin kaku, melainkan sebuah perjalanan sejarah dan spiritual yang menarik. Siswa belajar bahwa setiap ritual ibadah memiliki akar sejarah dan tujuan mulia untuk memuliakan bulan-bulan tertentu yang dianggap suci dalam agama mereka.
Secara keseluruhan, pengenalan puasa Rajab dan doanya di sekolah dasar adalah strategi pendidikan karakter yang efektif untuk melatih disiplin dan spiritualitas siswa. Sekolah memfasilitasi lingkungan yang mendukung bagi siswa yang ingin belajar beribadah lebih dari sekadar kewajiban dasar. Melalui praktik nyata dan bimbingan yang penuh kasih sayang dari guru, siswa SD tumbuh menjadi individu yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kekayaan spiritual, siap menghadapi tantangan zaman dengan pondasi iman yang kokoh.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia