Lebih dari Sekadar Kata: Membangun Jembatan Budaya Melalui Terjemahan di SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Di era globalisasi, ruang kelas Sekolah Dasar (SD) telah bertransformasi menjadi gerbang pertama anak menjelah keberagaman dunia. Buku cerita terjemahan, dari dongeng Nordik hingga folktale Asia, berperan sebagai jendela budaya yang paling mudah diakses. Melalui halaman-halaman buku inilah, siswa tidak hanya belajar kata-kata baru dalam Bahasa Indonesia. Mereka diajak mengintip cara hidup, tradisi, dan nilai-nilai yang dianut anak-anak seusia mereka di belahan dunia lain. Proses ini membangun pondasi toleransi dengan menunjukkan bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang indah untuk dipelajari.
Membaca karya terjemahan yang baik secara efektif melatih kemampuan kognitif dan empati sosial siswa. Ketika seorang siswa membaca tentang seorang anak di Jepang yang menyiapkan kotak bekal (bento) atau seorang anak di Mesir yang berbuka puasa bersama keluarga, mereka belajar memahami sudut pandang orang lain. Imajinasi mereka menjelajah melampaui batas geografis negara mereka sendiri. Mereka mulai menyadari bahwa meski berbeda bahasa dan adat, perasaan senang, sedih, harapan, dan ketakutan seorang anak di mana pun adalah sama. Pelajaran berharga inilah yang mengasah kecerdasan emosional mereka.
Agar proses pembelajaran optimal, guru memegang peran kunci sebagai pemandu budaya. Guru tidak hanya membacakan teks, tetapi juga membuka diskusi tentang “mengapa” di balik suatu tradisi dalam cerita. Misalnya, mengapa tokoh dalam cerita Rusia memakai Matryoshka (boneka sarang) atau mengapa keluarga di Meksiko merayakan Hari Kematian? Pertanyaan semacam ini merangsang rasa ingin tahu kritis siswa terhadap latar belakang sebuah budaya. Dialog interaktif ini mengubah membaca pasif menjadi sebuah petualangan budaya yang aktif dan mendalam.
Pemilihan buku terjemahan yang autentik dan berkualitas juga menjadi kunci kesuksesan. Guru dan orang tua harus jeli memilih buku yang tidak hanya diterjemahkan dengan bahasa yang baik, tetapi juga tetap menghormati representasi budaya aslinya. Buku dengan ilustrasi yang akurat dan penjelasan konteks budaya yang ringan sangat disarankan. Hindari buku yang justru memperkuat stereotip tertentu tentang suatu suku atau bangsa. Dengan pemilihan yang tepat, buku terjemahan menjadi sumber perspektif yang kaya dan terpercaya bagi siswa.
Pada akhirnya, membiasakan anak dengan karya terjemahan adalah investasi untuk membentuk generasi yang berpikiran terbuka dan berwawasan global. Literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk memahami dan menghargai narasi dari budaya lain. Dengan fondasi ini, kita mempersiapkan anak-anak untuk menjadi warga dunia yang penuh empati. Mereka tidak hanya menjadi individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga bijak secara sosial dan budaya. Penulis: Della Octavia Citra Lestari Dokumen: Google