Literasi Bukan Sekadar Jempol: Mengapa Mengetik Cepat Tidak Menjamin Keamanan Data
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam sebuah workshop teknologi
siber yang digelar di Surabaya baru-baru ini, terungkap fakta yang cukup
mengejutkan bahwa banyak siswa sekolah dasar yang memiliki kecepatan mengetik
luar biasa ternyata justru sangat ceroboh dalam menjaga kerahasiaan identitas
digital mereka sendiri. Para peserta workshop yang sebagian besar terdiri dari
siswa kelas 5 SD sering kali dengan sangat mudah membagikan informasi pribadi
yang bersifat sensitif, seperti alamat rumah lengkap hingga nomor telepon
pribadi orang tua hanya demi mengikuti tren tantangan terbaru. Situasi ini menunjukkan
bahwa kemampuan teknis yang mumpuni dalam menggunakan fitur canggih pada ponsel
pintar tidak serta-merta diikuti oleh pemahaman yang memadai mengenai
pentingnya menjaga privasi di tengah ancaman kejahatan daring yang masif.
Kecenderungan untuk
mengejar popularitas instan di media sosial sering kali membuat siswa melupakan
fakta bahwa setiap data yang mereka unggah ke internet akan tersimpan selamanya
dalam basis data yang bisa diakses siapa pun. Literasi digital yang sesungguhnya
mengajarkan siswa untuk selalu waspada terhadap setiap permintaan data pribadi
dari aplikasi atau situs web yang tidak dikenal, serta melatih mereka untuk
memahami pengaturan privasi. Tanpa kesadaran akan keamanan data, kecepatan
jempol dalam mengunggah konten justru bisa berubah menjadi undangan bagi bahaya
yang dapat mengancam keselamatan fisik maupun mental siswa dan keluarganya
secara langsung.
Para ahli keamanan siber
dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa melek digital sejati mencakup
kemampuan untuk mengenali tanda-tanda penipuan seperti tautan mencurigakan (phishing)
yang sering kali menyamar sebagai hadiah lomba menggiurkan. Siswa perlu
diajarkan bahwa di balik kemudahan akses informasi, terdapat tanggung jawab
besar untuk menjaga benteng pertahanan digital mereka sendiri dengan
menggunakan kata sandi yang kuat dan tidak membagikannya. Edukasi ini menjadi
sangat krusial karena sering kali anak-anak menjadi titik terlemah dalam
keamanan keluarga akibat ketidaktahuan mereka mengenai nilai ekonomi dan
privasi dari sebuah data digital.
Dengan meningkatnya
jumlah waktu yang dihabiskan siswa di depan layar, penting bagi kurikulum
sekolah untuk memasukkan materi tentang perlindungan data pribadi sebagai
bagian integral dari pelajaran teknologi informasi. Siswa harus mulai diberikan
pemahaman bahwa privasi adalah hak asasi yang harus diperjuangkan dan
dilindungi, bukan sesuatu yang boleh ditukarkan dengan jumlah "like"
atau "follower" di media sosial. Melalui pemahaman yang mendalam
tentang risiko dan konsekuensi dari setiap aktivitas daring, diharapkan siswa
dapat menjelajahi dunia digital dengan lebih aman, cerdas, dan penuh
perhitungan untuk masa depannya.
Siswa yang melek digital
juga akan memahami bahwa privasi orang lain sama pentingnya dengan privasi
mereka sendiri, sehingga mereka tidak akan sembarangan mengunggah foto atau
rahasia teman tanpa izin yang jelas. Hal ini merupakan bagian dari literasi sosial
digital yang menumbuhkan rasa saling menghormati di ruang siber yang sering
kali terasa tanpa batas dan tanpa aturan yang kaku. Menghormati hak privasi
orang lain adalah langkah awal dalam menciptakan komunitas internet yang aman
dan nyaman bagi semua kalangan, terutama bagi anak-anak yang masih dalam tahap
pertumbuhan karakter.
Selain perlindungan data,
melek digital juga mencakup kesadaran tentang kesehatan perangkat, di mana
siswa belajar untuk tidak mengunduh aplikasi sembarangan yang berpotensi
mengandung virus atau perangkat perusak (malware). Pemahaman ini sangat
teknis namun krusial, karena perangkat yang terinfeksi dapat menjadi pintu
masuk bagi pencurian identitas yang lebih luas terhadap seluruh anggota
keluarga yang menggunakan jaringan Wi-Fi yang sama. Dengan demikian, literasi
digital mencakup spektrum yang luas, mulai dari cara berpikir kritis hingga
pemahaman teknis mengenai keamanan infrastruktur perangkat yang kita gunakan
sehari-hari.
Kesimpulannya, kemahiran
menggunakan jempol di atas layar hanyalah permukaan kecil dari samudra
pengetahuan digital yang harus dikuasai oleh siswa di era modern ini agar
mereka tidak terombang-ambing oleh arus. Mari kita tanamkan kesadaran bahwa
data adalah aset berharga yang harus dijaga dengan penuh ketelitian dan
kecerdasan, bukan sekadar komoditas untuk mencari perhatian publik secara
instan. Keamanan digital adalah tanggung jawab bersama yang dimulai dari
kesadaran individu untuk selalu berpikir panjang sebelum melakukan klik pada
tautan apa pun yang muncul di layar gawai mereka.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah