Literasi Bukan Sekadar Membaca: Membedah Teks untuk Solusi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Definisi
literasi di tingkat sekolah dasar di Surabaya tengah mengalami perluasan makna
yang revolusioner, tidak lagi sekadar kemampuan teknis mengeja dan menghafal
isi cerita, melainkan kemampuan menganalisis informasi untuk memecahkan dilema
moral atau logis di dalam teks. Guru-guru di sekolah dasar kini mulai secara
konsisten menerapkan teknik "Membaca Kritis" di mana siswa diminta
mempertanyakan motif karakter, memprediksi solusi alternatif atas konflik, dan
menghubungkan masalah dalam cerita dengan realitas sosial di dunia nyata.
Langkah ini bertujuan strategis untuk mengasah ketajaman berpikir siswa agar
tidak hanya menjadi konsumen informasi yang pasif, tetapi menjadi pengolah data
yang kritis, skeptis secara sehat, dan solutif.
Kesenjangan literasi di
Indonesia selama ini sering kali bukan terletak pada kemampuan teknis membaca
huruf, melainkan pada rendahnya daya nalar terhadap makna terdalam dari apa
yang dibaca. Dengan beralih dari sekadar hafalan plot cerita ke pemecahan masalah
dalam konteks literasi, siswa dilatih secara sistematis untuk melihat pola
hubungan sebab-akibat yang kompleks di balik sebuah narasi. Analisis
sosiolinguistik menunjukkan bahwa anak yang terbiasa membedah teks secara
kritis memiliki kemampuan berargumentasi yang jauh lebih sistematis, persuasif,
dan logis. Literasi yang berorientasi pada pemecahan masalah adalah fondasi
utama bagi pembentukan warga negara yang demokratis dan sulit untuk
dimanipulasi oleh informasi yang menyesatkan atau propaganda digital.
Transformasi paradigma
ini menuntut penyediaan bahan bacaan yang jauh lebih variatif, menantang, dan
kontekstual, bukan sekadar teks moralitas satu arah yang kaku. Siswa perlu
dihadapkan pada teks yang mengandung ambiguitas, kontradiksi, dan masalah terbuka
yang memicu debat sehat serta diskusi kritis di dalam ruang kelas. Melalui
literasi kritis, anak-anak belajar bahwa sebuah cerita atau berita dapat
dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda, melatih mereka untuk lebih
toleran terhadap perbedaan. Hal ini sangat krusial di era banjir informasi saat
ini, di mana kemampuan memverifikasi fakta dan memahami intensi penulis menjadi
keterampilan bertahan hidup yang wajib dimiliki oleh setiap individu sejak usia
dini.
Pakar pendidikan di
Surabaya menekankan bahwa literasi kritis juga melibatkan penggunaan media
digital, di mana siswa diajak membedah video atau artikel daring untuk
mengidentifikasi mana masalah yang nyata dan mana yang sekadar narasi buatan.
Kemampuan memecahkan masalah dalam teks digital ini akan melindungi anak-anak
dari dampak buruk hoaks dan penipuan siber yang kian marak. Siswa tidak lagi
hanya "menelan" apa yang mereka lihat di layar, melainkan mulai
bertanya "mengapa informasi ini dibagikan?" dan "solusi apa yang
paling tepat untuk masalah ini?". Literasi menjadi perisai kognitif yang
kuat bagi perkembangan mental dan integritas moral anak-anak sekolah dasar.
Dukungan orang tua di
rumah juga memegang peranan vital dalam memperkuat paradigma literasi solutif
ini melalui kebiasaan berdialog setelah membaca buku bersama anak. Orang tua
didorong untuk tidak hanya bertanya "siapa tokohnya?", tetapi lebih
ke arah "apa yang akan kamu lakukan jika menjadi dia?".
Pertanyaan-pertanyaan terbuka ini merangsang imajinasi dan nalar solutif anak
di luar lingkungan formal sekolah. Sinergi antara guru dan orang tua dalam
membangun budaya kritis ini akan mempercepat terciptanya lingkungan belajar
yang merangsang kecerdasan kolektif. Literasi akhirnya dipahami bukan sebagai
beban sekolah, melainkan sebagai gaya hidup yang mencerdaskan dan
memberdayakan.
Dari sisi akademik,
kemampuan literasi kritis berkorelasi positif dengan penguasaan mata pelajaran
lain seperti sains dan matematika, karena ketajaman dalam memahami instruksi
dan logika bahasa adalah kunci utamanya. Siswa yang mampu membedah teks dengan
baik akan lebih mudah memahami konsep-aspek teoritis yang rumit karena mereka
terbiasa mencari struktur logika di balik setiap kalimat. Ini adalah bentuk
efisiensi belajar yang luar biasa, di mana satu keterampilan dasar (literasi)
mampu mengangkat mutu akademik secara keseluruhan. Paradigma ini menghancurkan
mitos bahwa literasi hanyalah urusan pelajaran bahasa, melainkan tanggung jawab
semua pengajar lintas disiplin ilmu.
Sebagai penutup, masa
depan literasi anak bangsa tidak lagi ditentukan oleh berapa banyak buku yang
mereka selesaikan secara kuantitas, tetapi seberapa dalam mereka mampu membedah
satu masalah di dalam buku tersebut untuk memperbaiki realitas kehidupan mereka.
Membaca harus menjadi pintu masuk utama bagi pemikiran inovatif dan solutif,
bukan sekadar ritual mekanis menghafal nama tokoh dan latar tempat untuk
menjawab soal ujian. Dengan konsisten mengubah cara siswa berinteraksi dengan
teks, kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya tahu membaca dunia,
tetapi juga tahu bagaimana cara memperbaikinya. Literasi kritis adalah
investasi paling mendasar untuk kedaulatan berpikir bangsa di masa depan.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah