Literasi Digital Bukan Soal Seberapa Cepat Mengetik Tapi Seberapa Tajam Berpikir
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di era sekarang, banyak orang merasa kagum melihat kecepatan jari-jari siswa sekolah dasar saat mengetik pesan atau mencari informasi di mesin pencari digital dengan sangat lincah. Namun, kita harus menyadari bahwa literasi digital yang sesungguhnya bukan diukur dari kecepatan motorik tersebut, melainkan dari seberapa tajam nalar siswa dalam memproses setiap kata yang mereka temukan. Kecepatan tanpa ketajaman berpikir hanya akan melahirkan generasi yang reaktif terhadap informasi tanpa kemampuan untuk melakukan refleksi secara mendalam dan jujur. Literasi digital harus diletakkan pada domain kognitif di mana siswa mampu melakukan analisis, sintesis, dan evaluasi terhadap pesan-pesan yang mereka terima di layar gawai setiap hari. Integritas di ujung jari menuntut siswa untuk berhenti sejenak dan berpikir kritis sebelum mengambil keputusan untuk mengeklik atau mempercayai sebuah data digital yang ada. Kita perlu mengalihkan fokus pendidikan dari sekadar pelatihan teknis menuju pengasahan kecerdasan berpikir yang berlandaskan pada nilai-nilai kebenaran ilmiah yang hakiki.
Ketajaman berpikir dalam literasi digital melibatkan kemampuan siswa untuk mendeteksi adanya logika yang salah atau bias dalam sebuah informasi yang disajikan secara menarik di internet. Guru perlu memberikan latihan-latihan yang menantang nalar siswa agar mereka tidak terbiasa menerima jawaban instan tanpa proses verifikasi yang cukup dan mendalam. Siswa diajarkan untuk mencari bukti pendukung dari sumber lain yang tepercaya sebelum menyimpulkan sesuatu sebagai sebuah fakta yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan cara ini, siswa belajar bahwa kecepatan mendapatkan informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas kebenaran dari informasi tersebut bagi pengetahuan mereka. Penekanan pada proses berpikir akan membuat siswa lebih menghargai kejujuran intelektual dan berani mengakui jika mereka belum memahami sebuah konteks permasalahan secara utuh. Literasi yang tajam adalah pelindung utama siswa dari manipulasi informasi yang sering kali mengincar pengguna internet yang kurang waspada dan terlalu terburu-buru dalam bertindak.
Selain aspek analisis, ketajaman berpikir juga mencakup kemampuan siswa dalam mengomunikasikan ide-ide mereka secara orisinal melalui berbagai media digital yang tersedia di sekolah dasar. Siswa tidak boleh dibiarkan hanya menjadi tukang salin dan tempel karya orang lain hanya karena merasa kecepatan adalah segalanya dalam mengerjakan tugas sekolah mereka. Guru harus menanamkan pemahaman bahwa orisinalitas dalam berpikir jauh lebih berharga daripada kecepatan dalam menyelesaikan tugas dengan cara-cara yang tidak jujur secara akademik. Siswa didorong untuk mengekspresikan pendapatnya sendiri dengan gaya bahasa yang otentik, mencerminkan karakter unik yang mereka miliki sebagai individu merdeka yang berdaulat secara intelektual. Proses kreatif ini akan melahirkan rasa bangga pada diri siswa karena mereka tahu bahwa hasil karyanya adalah buah dari pemikiran yang tajam dan kerja keras yang jujur. Inilah esensi dari literasi digital yang memanusiakan manusia di tengah gempuran mesin-mesin otomatis yang semakin pintar namun tidak memiliki nurani kemanusiaan.
Pendidik juga perlu memberikan teladan dalam menunjukkan ketajaman berpikir saat menggunakan teknologi di depan kelas sebagai model perilaku bagi para siswa didiknya. Guru yang selalu bersikap kritis terhadap sumber ajar yang digunakannya akan memberikan inspirasi bagi siswa untuk melakukan hal yang sama dalam aktivitas belajar mandiri mereka di rumah. Sekolah juga dapat menciptakan suasana yang mendukung diskusi sehat, di mana kecepatan berpendapat tidak lebih dihargai daripada kedalaman dan kejujuran dalam berargumen secara logis dan santun. Kolaborasi dengan orang tua sangat penting untuk menyelaraskan pemahaman bahwa prestasi anak tidak diukur dari seberapa canggih gawai yang mereka pegang, melainkan dari seberapa bijak mereka menggunakannya. Lingkungan yang menghargai ketajaman berpikir akan membentuk karakter siswa yang tangguh, mandiri, dan memiliki integritas akademik yang tidak mudah goyah oleh pengaruh eksternal. Dengan nalar yang tajam, siswa akan tumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu menavigasi masa depan dengan penuh kepercayaan diri yang tinggi.
Sebagai simpulan, literasi digital haruslah dikembalikan pada khitahnya sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar keterampilan teknis mengetik yang bersifat mekanis semata. Kita harus berjuang untuk melahirkan generasi emas yang memiliki nalar setajam silet dalam membedah informasi namun tetap memiliki hati selembut sutra dalam menjaga etika kemanusiaan. Orisinalitas dan integritas adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan dari setiap aktivitas digital yang dilakukan oleh siswa sekolah dasar sebagai calon pemimpin bangsa masa depan. Mari kita ajarkan anak-anak kita bahwa menjadi pintar di era digital berarti menjadi kritis, jujur, dan selalu bertanggung jawab atas setiap ide yang mereka bagikan ke ruang publik. Pendidikan dasar adalah fondasi untuk membangun kecerdasan yang holistik, di mana teknologi digunakan untuk memperkuat kemuliaan manusia, bukan untuk merendahkannya menjadi sekadar angka digital. Semoga setiap langkah kecil kita dalam mengasah ketajaman nalar siswa membuahkan hasil berupa masyarakat yang lebih jujur, adil, dan sejahtera di masa depan nanti.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti