Literasi Kesehatan Mental dalam Ekosistem Pendidikan Dasar Abad Ke-21
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Urgensi literasi kesehatan mental dalam ekosistem pendidikan dasar abad ke-21 menjadi isu sentral yang menuntut perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan kebijakan pendidikan nasional. Literasi kesehatan mental bukan sekadar pengetahuan tentang gangguan psikologis, melainkan pemahaman komprehensif mengenai cara menjaga stabilitas emosional dan ketahanan mental siswa di tengah tekanan zaman. Di era digital yang penuh dengan distraksi dan kompetisi yang kian tajam, siswa sekolah dasar sangat rentan mengalami kecemasan akademik jika tidak dibekali dengan kecakapan manajemen emosi sejak dini. Pendidikan harus mampu memposisikan kesejahteraan jiwa sebagai fondasi utama sebelum proses transfer pengetahuan kognitif dilakukan secara intensif di dalam ruang kelas. Oleh karena itu, integrasi materi kesehatan mental ke dalam kurikulum bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk menjamin kualitas hidup generasi masa depan Indonesia.
Secara pedagogis, literasi kesehatan mental membantu siswa mengenali spektrum emosi yang mereka rasakan sehingga mereka mampu mengekspresikannya secara sehat dan bertanggung jawab secara sosial. Guru memiliki peran krusial sebagai garda terdepan yang harus mampu mendeteksi gejala awal perubahan perilaku siswa yang mengarah pada gangguan psikologis ringan. Pelatihan mengenai kesehatan mental bagi tenaga pendidik perlu diperkuat agar mereka memiliki sensitivitas dan empati yang tinggi dalam menghadapi keunikan karakter setiap peserta didik. Suasana belajar yang aman secara psikologis akan meningkatkan daya serap otak siswa terhadap materi pelajaran yang bersifat kompleks dan abstrak di sekolah. Sekolah harus bertransformasi menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menenangkan hati dan memberikan rasa aman bagi seluruh penghuninya tanpa terkecuali.
Implementasi program kesehatan mental di sekolah dasar juga mencakup edukasi bagi orang tua agar tercipta sinergi yang harmonis antara lingkungan pendidikan dan pola asuh di rumah. Ketidaktahuan orang tua mengenai pentingnya kesejahteraan mental sering kali memicu tekanan yang kontraproduktif terhadap perkembangan anak secara keseluruhan di masa transisi intelektual mereka. Kolaborasi dengan tenaga profesional seperti psikolog sekolah atau konselor pendidikan sangat diperlukan untuk menyediakan layanan intervensi yang tepat sasaran dan berkelanjutan bagi siswa yang membutuhkan bantuan. Penanganan masalah mental secara dini akan mencegah terjadinya komplikasi psikososial yang lebih berat saat siswa beranjak dewasa dan memasuki lingkungan sosial yang lebih luas. Literasi kesehatan mental adalah investasi peradaban untuk mencetak manusia-manusia yang tangguh, mandiri, dan memiliki rasa kemanusiaan yang mendalam di setiap tindakan mereka.
Secara sosiopsikologis, keberhasilan program literasi kesehatan mental diukur dari kemampuan siswa dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat dan memitigasi praktik perundungan di lingkungan sekolah. Budaya saling menghargai dan saling mendukung antar-teman sebaya akan menciptakan ekosistem belajar yang sangat kondusif bagi pertumbuhan potensi kreatif anak bangsa secara maksimal. Pemerintah perlu menyusun standar pelayanan kesehatan mental di satuan pendidikan sebagai bagian dari indikator mutu sekolah yang diakui secara nasional di tahun 2026. Dukungan teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk menyediakan aplikasi pemantauan kesejahteraan emosional yang dapat diakses oleh siswa dan guru secara bijaksana dan sangat terukur. Dengan literasi yang kuat, kita sedang membangun benteng pertahanan bagi kesehatan jiwa generasi penerus bangsa dari pengaruh negatif lingkungan global yang dinamis.
Sebagai simpulan, penguatan literasi kesehatan mental di sekolah dasar adalah langkah strategis untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia secara holistik dan berjangka panjang di masa depan. Kita tidak boleh mengorbankan kebahagiaan anak-anak hanya demi mengejar target pencapaian akademik yang bersifat kuantitatif namun mengabaikan aspek kualitatif kemanusiaan. Kesehatan mental adalah kunci pembuka bagi produktivitas dan kreativitas yang akan membawa bangsa Indonesia menuju puncak kejayaan di kancah internasional kelak. Mari kita bersatu dalam visi menciptakan sekolah yang ramah jiwa, inspiratif, dan mampu melahirkan generasi emas yang sehat lahir serta batinnya secara seimbang. Masa depan Indonesia yang cemerlang bermula dari kesejahteraan jiwa anak-anak kita yang sedang belajar di bangku sekolah dasar saat ini di seluruh penjuru nusantara.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.