Masa Depan Guru di Era AI: Mempertahankan Sentuhan Manusia dalam Pendidikan STEM
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah
pesatnya integrasi AI di kelas SD, muncul pertanyaan eksistensial bagi para
pendidik: masihkah guru dibutuhkan ketika mesin mampu menjawab semua pertanyaan
STEM siswa dengan sempurna pada tahun 2025? Peluang AI untuk mengambil alih
tugas-tugas administratif dan instruksional dasar justru harus dipandang
sebagai peluang besar bagi guru untuk kembali ke peran sejatinya sebagai sosok
inspirator, motivator, dan pembentuk karakter manusiawi yang tidak bisa ditiru
oleh kabel dan kode. Masa depan pendidikan dasar bukan tentang persaingan
antara manusia dan mesin, melainkan tentang bagaimana sentuhan manusiawi guru
menjadi "roh" yang menghidupkan kecanggihan AI dalam kelas STEM.
Dalam
perspektif pedagogi transformatif, peran guru di era AI bergeser menjadi
"Arsitek Pengalaman Belajar" yang merancang perjalanan intelektual
dan emosional siswa. Sementara AI memberikan data dan fakta sains, guru
memberikan makna, tujuan, dan etika di balik penggunaan ilmu tersebut. Data
menunjukkan bahwa motivasi belajar anak SD sangat bergantung pada kualitas
hubungan emosional mereka dengan guru, sebuah faktor yang hingga saat ini
menjadi kelemahan utama kecerdasan buatan. Inilah peluang bagi guru untuk lebih
fokus pada pendampingan psikologis, penguatan nilai moral, dan pengasuhan
kreativitas yang membutuhkan empati mendalam serta pemahaman akan konteks
kehidupan unik setiap individu anak.
Analisis
terhadap masa depan profesi kependidikan menunjukkan bahwa guru yang sukses di
era AI adalah mereka yang mampu mengelola "Paradoks Teknologi":
semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin besar kebutuhan akan sentuhan
manusiawi yang hangat. Guru bertindak sebagai penjamin bahwa di balik layar
komputer, terdapat nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang, kejujuran, dan
keadilan yang harus dijunjung tinggi. Sekolah dasar tidak boleh berubah menjadi
pabrik data yang dingin, melainkan harus tetap menjadi rumah kedua yang penuh
dengan inspirasi dan bimbingan yang tulus. Guru adalah penjaga api kemanusiaan
di tengah dinginnya logika algoritma digital yang sering kali tanpa perasaan.
Tantangan
etikanya adalah mencegah degradasi peran guru menjadi sekadar "pengawas
mesin" atau operator teknis. Kurikulum pendidikan guru (termasuk S2
Dikdas) harus mulai menitikberatkan pada pengembangan kecerdasan emosional,
filosofi pendidikan, dan kepemimpinan moral di era digital. Guru harus dilatih
untuk menjadi pendamping yang mampu membantu siswa menavigasi dilema etika yang
ditimbulkan oleh AI, sebuah peran yang menuntut kedewasaan berpikir dan
kearifan hidup yang matang. Profesionalisme guru masa depan diukur dari sejauh
mana ia mampu memberdayakan siswanya untuk menjadi tuan atas teknologi, bukan
pelayan bagi kepentingan algoritma pihak ketiga.
Lebih
jauh lagi, sinergi antara guru dan AI dalam STEM memungkinkan terciptanya waktu
luang yang bisa digunakan untuk aktivitas bermakna seperti diskusi kelompok,
proyek pengabdian masyarakat, atau eksplorasi seni yang memperkaya jiwa. Guru
dapat fokus memberikan apresiasi pada kemajuan kecil siswa yang mungkin tidak
terdeteksi oleh mesin, memberikan pelukan semangat, atau menjadi pendengar
setia atas keluh kesah mereka. Sentuhan-sentuhan kecil inilah yang membentuk
raga pendidikan yang hidup dan membekas dalam ingatan anak hingga mereka
dewasa. AI adalah mesin pengolah data, namun guru adalah pembentuk jiwa yang
membawa bangsa ini menuju masa depannya yang paling cemerlang.
Sebagai
penutup, mempertahankan sentuhan manusiawi adalah pilar terpenting dalam
integrasi AI di sekolah dasar demi kejayaan Indonesia di masa depan. Kita harus
menyadari bahwa teknologi paling cerdas sekalipun hanyalah alat bantu,
sementara guru adalah jantung yang memompa nyawa ke dalam sistem pendidikan
kita. Mari kita muliakan profesi guru dan dukung mereka untuk terus menjadi
pembimbing yang berempati di era digital, demi melahirkan generasi emas yang
pintar secara intelektual dan luhur secara kemanusiaan. Dengan kolaborasi yang
harmonis antara kecanggihan AI dan kearifan hati guru, pendidikan dasar
Indonesia akan tumbuh menjadi sistem yang tak tertandingi dalam mencetak
manusia-manusia unggul bagi dunia.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah