Masa Depan Tanpa Air Mata: Menuju Transformasi Pendidikan yang Berpihak pada Anak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Viralnya
video tangisan siswa SD karena beban PR yang melimpah harus menjadi titik akhir
dari cara pandang usang kita terhadap sistem pendidikan nasional. Isu ini bukan
sekadar tentang satu anak yang kelelahan, melainkan tentang kegagalan kolektif
kita dalam menciptakan ekosistem belajar yang beradab dan sehat. Jika kita benar-benar
ingin mewujudkan visi Generasi Emas 2045, maka langkah fundamentalnya adalah
memastikan bahwa setiap anak Indonesia bisa bersekolah dengan rasa aman dan
penuh harapan.
Transformasi pendidikan
yang berpihak pada anak membutuhkan keberanian politik dari pemegang kebijakan
untuk menyederhanakan kurikulum yang selama ini dianggap terlalu padat. Kita
memerlukan kurikulum yang memberikan ruang bagi guru untuk fokus pada kedalaman
materi, bukan sekadar keluasan cakupan yang dipaksakan. Dengan kurikulum yang
lebih luwes, guru tidak perlu lagi memberikan PR berat hanya demi mengejar
ketertinggalan materi pelajaran yang belum tuntas.
Pemberdayaan guru juga
menjadi kunci penting; guru harus dibekali dengan keterampilan untuk
menciptakan metode evaluasi yang kreatif dan menyenangkan. Sekolah ramah anak
harus menjadi gerakan nyata di mana beban tugas disesuaikan dengan minat dan
bakat unik setiap individu siswa. Tidak boleh ada lagi anak yang merasa gagal
sebagai manusia hanya karena mereka tidak sanggup menyelesaikan tumpukan soal
administratif yang seringkali tidak relevan dengan kehidupan nyata.
Selain itu, sinergi
antara sekolah dan komunitas harus diperkuat untuk mengawasi praktik-praktik
pendidikan yang melenceng dari prinsip ramah anak. Masyarakat harus memiliki
keberanian untuk melaporkan jika ada sekolah yang masih menerapkan tekanan
akademik berlebihan kepada siswa. Pendidikan adalah kepentingan publik yang
paling krusial, dan kita semua bertanggung jawab untuk menjaganya tetap berada
di jalur yang humanis dan mencerahkan.
Mari kita jadikan
momentum viralnya tangisan ini sebagai pengingat abadi bahwa masa kecil
anak-anak kita adalah aset bangsa yang paling berharga. Masa kecil tidak bisa
diulang, dan luka psikis yang timbul akibat tekanan sekolah bisa berdampak
seumur hidup. Pendidikan harus menjadi pelita yang menerangi jalan mereka,
bukan beban yang membuat langkah mereka gontai dan penuh air mata di sepanjang
perjalanan menuju masa depan.
Investasi terbaik sebuah
bangsa bukan hanya pada gedung-gedung sekolah yang megah, melainkan pada
kebahagiaan dan kesehatan mental anak-anak yang belajar di dalamnya. Dengan
mengurangi beban yang tidak perlu dan memperbanyak ruang kreativitas, kita
sedang membangun pondasi bangsa yang kuat, inovatif, dan penuh empati. Masa
depan Indonesia yang cemerlang dimulai dari meja belajar yang bebas dari
ketakutan dan penuh dengan senyuman antusiasme.
Sebagai penutup, mari
kita berkomitmen bersama untuk mengakhiri era tangisan di atas buku PR. Mari
kita bangun sekolah yang benar-benar ramah anak, di mana setiap siswa merasa
dihargai, setiap bakat diapresiasi, dan setiap hari adalah petualangan belajar
yang membahagiakan. Untuk anak-anak Indonesia, masa depan kalian tidak boleh
ditentukan oleh tumpukan PR malam ini, melainkan oleh impian-impian besar yang
kalian pupuk dengan rasa bahagia setiap harinya.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah