Masalah Konsentrasi Belajar di Era TikTok dan YouTube Shorts
s2dikdas.fip.unesa.ac.id - Surabaya.
Anak-anak dan remaja tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan konten visual
singkat dan cepat di era teknologi modern.
Video pendek yang penuh warna, gerakan cepat, dan hiburan instan
disajikan oleh platform seperti YouTube Shorts dan TikTok. Meskipun menarik dan kreatif, keberadaan
platform ini menimbulkan masalah besar bagi dunia pendidikan, terutama
berkaitan dengan konsentrasi belajar.
Perubahan dalam cara otak memproses
data merupakan masalah utama yang muncul.
Anak-anak terbiasa dengan rangsangan yang datang dengan cepat. Akibatnya, ketika mereka dihadapkan pada
kegiatan belajar yang menuntut fokus jangka panjang, seperti membaca buku
pelajaran atau mendengarkan penjelasan guru, mereka cepat bosan, gelisah, dan
bahkan kesulitan menyerap informasi.
Tugas belajar menjadi lebih sulit, dan jangkauan perhatian menjadi lebih
pendek.
Kondisi ini diperparah dengan
mudahnya akses ke ponsel dan media sosial. Akses mudah ke ponsel dan media
sosial memperparah situasi ini. Bahkan
saat belajar, banyak anak kesulitan melepaskan gawai. Siklus distraksi yang sulit diputuskan
terdiri dari notifikasi, keinginan untuk membuka satu video pendek yang
berakhir dengan lima puluh video, dan kebiasaan memutar video terus menerus. Pada akhirnya, waktu terbuang untuk belajar,
tugas terbengkalai, dan prestasi menurun.
Melarang total akses ke media sosial
bukan berarti solusi untuk masalah ini.
Membantu anak menggunakan teknologi secara sehat dan seimbang adalah
pilihan yang lebih baik. Untuk memulai,
orang tua dan guru dapat membantu anak mengatur kapan mereka menggunakan media
sosial. Misalnya, tetapkan waktu khusus
untuk anak-anak untuk mengakses TikTok atau YouTube Shorts dan kapan mereka
harus fokus pada belajar tanpa mengganggu gadget mereka.
Sangat penting bagi anak-anak untuk
dilatih untuk memperbaiki daya konsentrasinya.
Anak-anak secara bertahap dapat memperkuat fokusnya melalui latihan
sederhana, seperti membaca dalam waktu tertentu, bermain puzzle, atau belajar
dengan metode Pomodoro (belajar 25 menit, istirahat 5 menit). Selain itu, sangat membantu untuk menghindari
distraksi saat belajar: mematikan notifikasi, belajar di tempat khusus, dan
menghindari multitasking.
Orang tua memiliki peran yang sangat
penting dalam memberikan contoh dan bimbingan.
Anak-anak yang melihat orang tuanya juga mampu menggunakan teknologi
dengan cara yang bijak cenderung lebih mudah mengikuti arahan. Perlu diingat bahwa teknologi adalah alat,
bukan musuh. Anak-anak dapat tetap
menikmati hiburan digital sambil mempertahankan konsentrasi yang dibutuhkan
dalam proses belajar dengan bantuan yang tepat. Membangun konsentrasi
memerlukan waktu dan kesabaran, tetapi dengan pemahaman dan kerja sama antara
anak, orang tua, dan guru, tantangan belajar di era TikTok dan YouTube Shorts
dapat diatasi dengan cara yang positif dan membangun.
Penulis: Sabila Widyawati
Dokumentasi: Pinterest