Matinya Rasa Ingin Tahu: Dampak Destruktif Jawaban Instan pada Siswa SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kata "mengapa" seharusnya menjadi mesin penggerak utama dalam setiap proses pembelajaran, namun di tangan siswa sekolah dasar yang terpapar budaya instan, pertanyaan tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda kepunahan. Kemudahan akses jawaban melalui mesin pencari dan kecerdasan buatan telah membunuh kegelisahan intelektual yang seharusnya menjadi motor utama dalam eksplorasi ilmu pengetahuan. Merosotnya ketekunan dimulai ketika siswa merasa bahwa semua solusi sudah tersedia di genggaman mereka secara gratis, sehingga tidak ada lagi dorongan internal untuk bergelut dengan misteri-misteri ilmiah secara mendalam.
Analisis dari pakar psikologi pendidikan menyebutkan bahwa kepuasan instan (instant gratification) yang didapat dari teknologi menghambat perkembangan growth mindset pada anak-anak usia dini. Siswa menjadi sangat takut akan kesalahan karena mereka terbiasa melihat jawaban yang selalu "benar" dan "bersih" di layar gawai tanpa melalui proses revisi yang manusiawi. Hal ini menciptakan generasi dengan "mental kaca" yang sangat rapuh, di mana mereka akan mudah merasa hancur secara emosional saat menghadapi persoalan dunia nyata yang tidak memiliki jawaban tunggal atau solusi instan di internet.
Pendidikan dasar harus segera dikembalikan fungsinya sebagai medan eksplorasi yang menantang, bukan sekadar tempat pemindahan informasi yang sudah jadi. Guru perlu merancang pertanyaan-pertanyaan yang bersifat heuristik, yakni pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan perintah "copy-paste", melainkan membutuhkan empati, pengalaman fisik, dan refleksi batin yang tekun. Dengan memaksa siswa untuk mencari jawaban melalui pengamatan lapangan, eksperimen sederhana, dan wawancara langsung, kita sedang menghidupkan kembali sel-sel rasa ingin tahu yang sempat mati akibat ketergantungan digital.
Dampak destruktif dari jawaban instan ini juga merembet pada kemampuan retensi memori siswa, di mana informasi yang didapat tanpa usaha keras cenderung menguap dalam waktu yang sangat singkat. Otak secara biologis hanya akan menyimpan informasi yang dianggap penting, dan tingkat kepentingan itu seringkali ditentukan oleh besarnya energi yang dikeluarkan untuk mendapatkan informasi tersebut. Jika siswa mendapatkan jawaban tanpa perjuangan intelektual, otak tidak akan membangun jejak memori yang permanen, sehingga pendidikan hanya menjadi rutinitas menghafal jangka pendek yang tidak meninggalkan bekas pada pola pikir jangka panjang.
Dosen pascasarjana pendidikan dasar menekankan bahwa krisis rasa ingin tahu ini adalah pintu masuk bagi matinya inovasi di masa depan, karena inovator lahir dari ketekunan mencari jawaban atas masalah yang belum terpecahkan. Budaya instan membuat siswa menjadi malas untuk melakukan "trial and error", padahal itulah esensi dari kemajuan ilmu pengetahuan sejak zaman dahulu. Kita harus mengajari siswa bahwa ketidakpastian adalah bagian dari keindahan belajar, dan mencari jawaban sendiri adalah sebuah petualangan yang jauh lebih memuaskan daripada sekadar mendapatkan skor sempurna melalui bantuan mesin yang tidak memiliki perasaan.
Sinergi antara lingkungan sekolah dan rumah sangat diperlukan untuk menciptakan atmosfer yang menghargai pertanyaan-pertanyaan "aneh" dan eksploratif dari anak-anak daripada sekadar jawaban yang benar secara tekstual. Seringkali, sistem pendidikan kita terlalu kaku dalam memberikan penilaian benar-salah, yang secara tidak langsung justru mendorong siswa mencari jalan aman melalui jawaban-jawaban instan yang sudah tersedia. Kita harus memberikan ruang bagi imajinasi dan spekulasi intelektual agar ketekunan dalam mencari kebenaran tetap terjaga, meskipun proses tersebut membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada biasanya.
Sebagai penutup, menghidupkan kembali rasa ingin tahu adalah tugas suci bagi setiap pendidik di era otomatisasi yang kian mendominasi nalar manusia. Kita harus membuktikan kepada siswa bahwa dunia ini masih penuh dengan rahasia yang tidak bisa dijawab oleh algoritma mana pun, dan hanya ketekunan manusialah yang mampu menyikapnya. Mari kita dorong generasi ini untuk kembali menjadi penjelajah ilmu yang tangguh, yang berani bertanya, berani gagal, dan berani menghabiskan waktu berjam-jam demi sebuah pemahaman yang murni dan otentik bagi pertumbuhan jiwa mereka.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah