Meja Makan Sebagai Ruang Kelas: Transformasi Gizi di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Senin pagi di
sebuah SD Negeri di pinggiran kota, aroma sayuran segar dan protein hewani
tercium dari kantin sekolah, menandai dimulainya program Makan Siang Bergizi
Gratis yang melibatkan ribuan sekolah di tanah air. Program ini dirancang bukan
hanya untuk mengisi perut yang kosong, melainkan sebagai instrumen pendidikan
untuk meningkatkan literasi gizi siswa sejak dini. Melalui intervensi ini,
pemerintah berharap dapat menekan angka stunting dan meningkatkan
konsentrasi belajar siswa di kelas.
Faktanya, literasi gizi
di Indonesia masih menjadi tantangan besar, di mana banyak siswa SD lebih
memilih jajanan tinggi gula ketimbang buah-buahan. Program ini hadir sebagai
antitesis terhadap budaya konsumsi "sampah" tersebut. Dengan menyajikan
menu yang dirancang oleh ahli diet, siswa diajak mengenali tekstur, rasa, dan
manfaat dari berbagai jenis pangan lokal yang selama ini mungkin mereka
hindari.
Analisis mendalam
menunjukkan bahwa keberhasilan program ini terletak pada integrasi antara
piring makan dan buku teks. Guru-guru kini mulai memasukkan topik nutrisi ke
dalam mata pelajaran IPA atau Pendidikan Jasmani. Siswa diajarkan cara membaca
tabel nutrisi dan memahami pentingnya porsi yang seimbang, menjadikan jam makan
siang sebagai sesi praktik yang paling dinanti.
Dari sisi psikologi
perkembangan, pembentukan kebiasaan makan yang sehat di usia SD (7-12 tahun)
adalah masa emas yang tidak boleh dilewatkan. Jika pada masa ini anak terbiasa
makan sayur dan protein berkualitas, pola tersebut akan terbawa hingga dewasa.
Inilah investasi jangka panjang yang sesungguhnya: membangun manusia Indonesia
yang berkualitas secara fisik dan mental.
Namun, tantangan logistik
dan standarisasi gizi di berbagai daerah tetap menjadi catatan kritis bagi para
pembuat kebijakan. Perbedaan ketersediaan pangan di Jawa dan wilayah Timur
Indonesia menuntut fleksibilitas menu tanpa mengurangi standar nutrisi. Pemerintah
perlu memastikan bahwa kualitas protein yang diterima siswa di pelosok sama
baiknya dengan siswa di kota besar.
Dengan pengawasan yang
ketat dan partisipasi aktif orang tua, program ini bisa menjadi tonggak sejarah
baru dalam dunia pendidikan kita. Literasi gizi bukan lagi sekadar teori di
papan tulis, melainkan pengalaman nyata yang dirasakan setiap hari. Masa depan
bangsa bermula dari apa yang tersaji di meja makan sekolah saat ini.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah