Melawan Budaya Instan: Menanam Benih Kejujuran Lewat Tulisan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Budaya serba
instan yang merambah media sosial saat ini sering kali membuat banyak siswa
sekolah dasar terobsesi untuk mendapatkan hasil yang cepat dalam mengerjakan
tugas mereka, termasuk dengan cara-cara yang tidak jujur seperti mencontek
karya orang lain. Di Surabaya, sebuah gerakan inspiratif bertajuk "Satu
Hari Satu Kalimat Asli" mulai digalakkan di berbagai sekolah untuk melatih
siswa agar tetap konsisten dalam menjaga integritas dan menghargai orisinalitas
setiap harinya. Para guru menekankan dengan sangat kuat bahwa proses berpikir
dan usaha keras yang dilakukan siswa jauh lebih penting daripada sekadar hasil
akhir yang terlihat bagus namun diperoleh dengan cara-cara yang curang.
Menghargai orisinalitas
pada dasarnya adalah tentang bagaimana kita belajar menghargai proses panjang
dan berliku di balik lahirnya sebuah ide yang hebat dan bermakna. Ketika kita
dengan sengaja menyalin karya orang lain, kita sebenarnya sedang kehilangan
kesempatan berharga untuk belajar dari kesalahan, memperbaiki diri, dan
menemukan keunikan bakat yang kita miliki. Orisinalitas mengajarkan kita
tentang nilai ketekunan, kesabaran, serta rasa bangga yang mendalam atas setiap
pencapaian yang kita raih melalui usaha dan keringat kita sendiri, bukan dari
hasil mencuri ide milik orang lain.
Gerakan menanam benih
kejujuran ini bertujuan untuk menyadarkan siswa bahwa tidak ada kesuksesan yang
benar-benar manis jika diraih dengan cara menipu diri sendiri dan orang lain di
sekitarnya. Dengan menulis setidaknya satu kalimat asli setiap hari, siswa
diajak untuk lebih peka terhadap perasaan dan pikiran mereka sendiri di tengah
hiruk-pikuk dunia digital yang sering kali membuat kita menjadi peniru. Proses
sederhana ini jika dilakukan secara rutin akan membentuk karakter yang kuat dan
tidak mudah terpengaruh oleh budaya instan yang cenderung merusak moralitas dan
daya kreativitas generasi muda.
Jangan biarkan layar
ponsel atau perangkat digital yang canggih membuatmu lupa bahwa sesungguhnya
kamu adalah seorang pencipta masa depan, bukan sekadar seorang peniru yang
tidak memiliki jati diri. Masa depan bangsa ini sangat bergantung pada generasi
yang memiliki keberanian untuk jujur dan bangga akan karya-karya orisinalnya
sendiri, sekecil apa pun karya tersebut di mata orang lain. Kejujuran dalam
menulis adalah langkah awal yang sangat penting untuk menjadi warga negara yang
bertanggung jawab, beretika, dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran
dalam setiap tindakan yang dilakukan.
Pihak sekolah di
Palembang juga melibatkan orang tua untuk mendukung gerakan ini dengan cara
memberikan apresiasi yang tulus atas setiap usaha anak dalam mengerjakan tugas
secara mandiri di rumah. Dengan dukungan dari lingkungan rumah dan sekolah,
benih kejujuran yang ditanam akan tumbuh subur menjadi karakter yang melekat
kuat dalam diri setiap siswa hingga mereka tumbuh dewasa nanti. Hal ini
membuktikan bahwa integritas bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah,
melainkan sebuah komitmen bersama dari seluruh elemen masyarakat untuk
menciptakan generasi yang jujur dan berprestasi secara orisinal.
Kita harus terus berjuang
melawan godaan untuk mendapatkan nilai bagus melalui jalan pintas, karena nilai
yang sesungguhnya terletak pada kejujuran dan kemurnian hati kita dalam belajar
setiap harinya. Ingatlah bahwa setiap kata yang kamu tulis dengan jujur adalah
sebuah doa dan harapan untuk masa depanmu yang lebih baik dan lebih terhormat
di hadapan semua orang. Mari kita jadikan integritas sebagai identitas diri
kita sebagai siswa yang cerdas, kreatif, dan selalu menghargai karya orang lain
sebagaimana kita menghargai karya kita sendiri yang orisinal.
Sebagai penutup, marilah
kita berkomitmen untuk terus menjaga benih kejujuran ini agar tidak layu oleh
godaan budaya instan yang menawarkan kemudahan namun menghancurkan masa depan
kita. Jadilah pelopor dalam keaslian berkarya, hargailah proses belajarmu yang
unik, dan tunjukkan kepada dunia bahwa kamu adalah generasi yang siap memimpin
dengan kejujuran dan kreativitas yang luar biasa. Dengan menjaga orisinalitas,
kita tidak hanya sedang menulis tugas sekolah, tetapi kita sedang menuliskan
sejarah kesuksesan kita sendiri dengan tinta kejujuran yang tidak akan pernah
luntur oleh waktu.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah