Melawan Stagnasi: Standar Baru Kompetensi Guru SD dalam Ekosistem AI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kementerian
Pendidikan Dasar dan Menengah kini mulai merancang standar kompetensi guru yang
secara eksplisit mencantumkan literasi AI sebagai pilar utama profesionalisme
pendidik. Mendikdasmen menyatakan bahwa guru SD tidak perlu menjadi ahli
komputer, namun mereka wajib memahami cara kerja algoritma pembelajaran agar
dapat menggunakannya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Kebijakan ini
diambil untuk mengakhiri masa "kenyamanan palsu" para pendidik yang
merasa bahwa gelar akademik dan masa kerja saja sudah cukup untuk bertahan di
dunia pendidikan yang terus berubah.
Data dari berbagai riset
menunjukkan bahwa keterlibatan guru dalam pelatihan teknologi berdampak
langsung pada peningkatan skor numerasi dan literasi siswa di sekolah dasar.
Sebaliknya, stagnasi kemampuan digital guru berkorelasi dengan rendahnya
motivasi belajar siswa yang merasa cara mengajar di sekolah sudah tidak sejalan
dengan realitas luar. Guru yang gaptek secara tidak langsung sedang menciptakan
"tembok penghalang" antara potensi anak didik dengan kemajuan
teknologi yang seharusnya mereka kuasai.
Secara manajerial,
sekolah-sekolah dasar kini didorong untuk membentuk komunitas belajar guru yang
fokus pada pemanfaatan AI untuk inovasi kelas. Dalam ekosistem ini, guru senior
diharapkan tidak sungkan untuk belajar dari guru muda yang lebih fasih teknologi,
menciptakan budaya organisasi yang dinamis dan kompetitif. Semangat kolaboratif
ini menjadi kunci agar sekolah tetap menjadi institusi yang relevan dan tidak
kalah saing dengan berbagai platform belajar mandiri yang bermunculan secara
masif.
Penutup dari kebijakan
ini adalah pesan tegas bahwa perlindungan profesi guru hanya akan diberikan
kepada mereka yang memiliki etos belajar sepanjang hayat. AI adalah katalisator
yang akan mempercepat kejatuhan mereka yang malas, namun akan menjadi tangga
kesuksesan bagi mereka yang tekun beradaptasi. Sudah saatnya guru SD
membuktikan bahwa mereka adalah intelektual yang adaptif, bukan sekadar pekerja
rutin yang takut pada perubahan teknologi.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah