Melawan Stunting dari Kantin: Strategi Nasional di Balik Menu Sekolah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program Makan
Siang Bergizi Gratis bagi siswa SD merupakan senjata pamungkas pemerintah dalam
perang jangka panjang melawan stunting dan gizi buruk di Indonesia.
Meskipun target utama penurunan stunting adalah pada 1.000 hari pertama
kehidupan, intervensi pada usia sekolah dasar sangat krusial sebagai periode catch-up
growth atau pengejaran pertumbuhan. Melalui porsi protein hewani yang
ditingkatkan dalam menu sekolah, negara berupaya memastikan bahwa anak-anak
yang sempat mengalami hambatan pertumbuhan di masa balita tetap bisa mencapai
potensi fisik maksimalnya.
Fakta medis menunjukkan
bahwa pertumbuhan tulang dan perkembangan hormon pada anak usia 7-12 tahun
membutuhkan asupan kalsium dan zinc yang konsisten. Dengan pengawasan ahli gizi
di setiap dinas pendidikan, menu makan siang dirancang untuk menutup celah defisit
mikronutrien yang sering terabaikan di level rumah tangga. Ini adalah langkah
medis preventif yang dilakukan secara masif dan terstruktur melalui institusi
pendidikan.
Literasi gizi dalam
program ini juga menargetkan perubahan persepsi masyarakat tentang
"kenyang". Banyak orang tua yang masih menganggap kenyang adalah soal
volume karbohidrat, tanpa mempedulikan proporsi protein. Melalui anak-anak yang
pulang membawa cerita tentang makan siang mereka, sekolah secara tidak langsung
mengedukasi para ibu dan ayah tentang standar piring sehat yang benar.
Keberhasilan program di
daerah-daerah dengan prevalensi gizi buruk tinggi menunjukkan penurunan angka
absen sekolah yang disebabkan oleh penyakit infeksi ringan. Tubuh yang
ternutrisi dengan baik memiliki sistem imun yang lebih kuat, sehingga proses
belajar tidak terganggu oleh masalah kesehatan. Hal ini membuktikan bahwa
anggaran yang dikeluarkan untuk makan siang adalah bentuk efisiensi anggaran
kesehatan di masa depan.
Namun, sinkronisasi data
kesehatan siswa perlu diperketat untuk melihat progres pertumbuhan individu.
Setiap sekolah disarankan memiliki rekam medis gizi siswa (tinggi dan berat
badan berkala) yang terhubung dengan basis data nasional. Tanpa pemantauan berbasis
data, program ini hanya akan menjadi bagi-bagi makanan tanpa arah evaluasi yang
jelas.
Melawan stunting
bukan hanya tugas kementerian kesehatan, tapi tugas seluruh elemen bangsa,
termasuk kementerian pendidikan. Dengan mengubah kantin menjadi pusat pemulihan
gizi, kita sedang memastikan bahwa tidak ada lagi anak Indonesia yang tumbuh
kerdil secara fisik maupun intelektual. Program ini adalah investasi
kemanusiaan yang nilainya tak terukur oleh angka rupiah semata.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah