Melepas Ilusi Hijau dan Menumbuhkan Cara Pandang Ekologis Dewasa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Istilah hijau sering digunakan sebagai simbol kepedulian lingkungan yang tampak progresif. Namun, di balik simbol tersebut, tersembunyi ilusi yang kerap menyesatkan. Banyak individu merasa telah berkontribusi hanya karena mengikuti praktik yang terlihat ramah lingkungan. Padahal, praktik tersebut belum tentu disertai perubahan cara berpikir. Ilusi hijau ini menciptakan rasa aman palsu yang justru menghambat refleksi mendalam. Kepedulian lingkungan menjadi dangkal dan mudah tergantikan oleh tren baru. Untuk keluar dari jebakan ini, diperlukan cara pandang ekologis yang lebih dewasa.
Cara pandang ekologis dewasa menuntut kejujuran intelektual terhadap batasan diri. Individu diajak menyadari bahwa tidak semua tindakan hijau berdampak signifikan. Kesadaran ini bukan untuk meniadakan usaha kecil, tetapi untuk menempatkannya dalam konteks yang tepat. Dengan demikian, individu tidak terjebak pada simbolisme semata. Kepedulian lingkungan dipahami sebagai proses berkelanjutan yang penuh evaluasi. Setiap langkah perlu dikaji ulang secara kritis.
Kedewasaan ekologis juga ditandai dengan kemampuan menerima kompleksitas. Persoalan lingkungan jarang memiliki solusi tunggal yang sederhana. Banyak keputusan melibatkan kompromi antara kebutuhan manusia dan kapasitas alam. Individu yang dewasa secara ekologis tidak mencari jawaban instan. Mereka bersedia menghadapi dilema dan ketidakpastian. Sikap ini melahirkan kebijaksanaan dalam bertindak.
Melepas ilusi hijau berarti berani mengakui kontradiksi dalam gaya hidup modern. Banyak kenyamanan yang dinikmati berasal dari praktik yang merusak lingkungan. Menghadapi fakta ini sering kali tidak nyaman. Namun, ketidaknyamanan tersebut menjadi pintu masuk refleksi yang jujur. Dari sini, individu belajar memilah mana kebutuhan nyata dan mana keinginan berlebih. Proses ini memperkuat integritas ekologis dalam diri.
Cara pandang ekologis dewasa juga memandang alam sebagai sistem yang memiliki batas. Kesadaran akan batas ini mendorong sikap moderat dalam konsumsi dan produksi. Individu tidak lagi terobsesi pada pertumbuhan tanpa henti. Sebaliknya, mereka menghargai keseimbangan dan keberlanjutan. Perspektif ini menantang paradigma lama yang menempatkan eksploitasi sebagai tolok ukur kemajuan. Kemajuan didefinisikan ulang sebagai kemampuan hidup selaras dengan alam.
Dalam relasi sosial, kedewasaan ekologis tercermin dalam sikap dialogis. Individu tidak memaksakan pandangan, tetapi mengajak berdiskusi secara terbuka. Perbedaan pendekatan dipahami sebagai bagian dari proses belajar bersama. Dengan cara ini, kepedulian lingkungan tidak menjadi sumber konflik, melainkan ruang kolaborasi. Budaya saling belajar memperkuat fondasi gerakan ekologis. Dampaknya terasa lebih inklusif dan berkelanjutan.
Akhirnya, menumbuhkan cara pandang ekologis dewasa berarti melampaui ilusi hijau yang menenangkan. Kepedulian lingkungan tidak lagi diukur dari simbol, tetapi dari konsistensi sikap dan refleksi. Ketika pola pikir hijau berakar pada kedewasaan, perubahan menjadi lebih nyata dan bertahan lama. Inilah fondasi penting untuk menghadapi krisis ekologis dengan kepala dingin dan hati terbuka.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah