MEMAHAMI PRINSIP KONSTRUKSI MELALUI AKTIVITAS MERAKIT JEMBATAN MINI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Pembelajaran konstruksi dapat menjadi pengalaman yang bermakna
ketika siswa terlibat langsung dalam proses membangun sebuah objek. Melalui
kegiatan merakit jembatan mini, siswa sekolah dasar diajak memahami prinsip
kekuatan dan keseimbangan struktur secara sederhana, kreatif, dan menyenangkan.
Dalam
kegiatan pembelajaran berbasis proyek, guru mengenalkan konsep dasar konstruksi
kepada siswa, seperti penyangga, keseimbangan, serta bentuk rangka yang kuat.
Sebagai media praktik, siswa diminta merakit jembatan mini menggunakan stik es
krim, lem, dan bahan tambahan sederhana lainnya.
Sebelum
memulai pembuatan, siswa terlebih dahulu mengamati contoh struktur jembatan
melalui gambar dan video edukatif. Guru menjelaskan bagaimana bentuk rangka
segitiga dapat memberikan kekuatan tambahan, serta bagaimana distribusi beban
memengaruhi ketahanan jembatan.
Setelah
itu, siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk merencanakan desain jembatan yang
ingin dibangun. Mereka berdiskusi, menggambar rancangan, lalu mulai merakit
secara bertahap. Dalam prosesnya, siswa belajar berkolaborasi, membagi tugas,
memecahkan masalah, dan mencoba kembali saat terjadi kesalahan konstruksi.
Setelah
jembatan selesai dibuat, guru mengadakan uji kekuatan sederhana dengan
meletakkan benda kecil, seperti penghapus atau koin, untuk melihat struktur
mana yang paling stabil. Kegiatan ini membuat siswa dapat melihat langsung
hubungan antara desain konstruksi dan kekuatan bentuk bangunan.
Kegiatan
ini tidak hanya mengembangkan pemahaman konsep sains dan teknik, tetapi juga
melatih kreativitas, ketelitian, serta keterampilan kerja sama dalam kelompok.
Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran pembelajaran berbasis STEAM yang
mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika dalam satu
proses belajar.
Melalui
aktivitas merakit jembatan mini, siswa memperoleh pengalaman pembelajaran yang
autentik dan aplikatif. Mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu
menerapkannya dalam bentuk nyata. Diharapkan kegiatan seperti ini terus
dikembangkan agar pembelajaran di sekolah dasar semakin menarik, bermakna, dan
relevan dengan keterampilan abad 21.
###
Penulis: Sevian Ageng
Wahono
Dokumentasi: Freepik