Membaca Alam Lewat Teknologi: Kolaborasi ChatGPT dan Data Cuaca untuk Pembelajaran IPAS
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
di sekolah dasar kini memasuki babak baru yang lebih mendalam dengan
menggabungkan pengamatan fenomena cuaca nyata dan kecerdasan buatan ChatGPT.
Sinergi inovatif ini memungkinkan guru untuk menghadirkan pengalaman belajar
yang sangat kontekstual dan bermakna, di mana siswa tidak hanya diajak untuk
sekadar mengamati hujan, panas, atau angin, tetapi juga dapat berdiskusi secara
interaktif dengan AI untuk memahami penyebab ilmiah di balik fenomena tersebut
secara mendetail. Pendekatan ini secara langsung mendukung SDG 13 dengan
meningkatkan pemahaman sains iklim dan lingkungan pada generasi muda agar lebih
peduli terhadap bumi.
Dalam praktik pembelajarannya, siswa
dapat ditugaskan untuk mencatat data suhu udara dan kelembapan harian di
lingkungan sekolah, lalu menggunakan ChatGPT sebagai asisten untuk membantu
menganalisis atau memprediksi pola cuaca yang mungkin terjadi berdasarkan data
yang telah mereka kumpulkan. Dari situ, mereka dapat melangkah lebih jauh
dengan membandingkan hasil analisis dan prediksi AI tersebut dengan prakiraan
cuaca resmi dari aplikasi atau badan meteorologi, sebuah proses yang sangat
efektif untuk melatih nalar ilmiah, kemampuan komparasi, dan validasi data.
Diskusi interaktif dengan AI ini menjadikan materi cuaca yang biasanya dianggap
kompleks menjadi lebih mudah dicerna, menarik, dan sangat relevan dengan
kehidupan sehari-hari siswa.
Guru juga sangat terbantu dengan
kehadiran ChatGPT dalam proses perencanaan dan perancangan materi ajar yang
variatif terkait topik alam dan cuaca. Teknologi AI ini dapat diminta untuk
menyusun ide eksperimen sains sederhana, membuat lembar kerja siswa yang
menarik, atau memberikan contoh soal evaluasi yang kontekstual dan sesuai
dengan semangat Kurikulum Merdeka. Efisiensi dalam persiapan materi ini
memungkinkan guru untuk dapat lebih fokus mengalokasikan waktu dan energinya
pada pendampingan langsung kepada siswa saat melakukan kegiatan observasi
lapangan.
Kolaborasi pemanfaatan teknologi ini
juga mengajarkan siswa pelajaran penting untuk memanfaatkan perangkat digital
secara bertanggung jawab sebagai alat riset dan belajar, bukan sekadar sebagai
mainan atau hiburan. Mereka belajar bahwa teknologi canggih dapat membantu
manusia memahami alam semesta dengan lebih baik, serta membangun jembatan
pemahaman antara dunia digital yang maya dan ekosistem nyata yang ada di
sekitar mereka.
Secara keseluruhan, integrasi antara
kecerdasan buatan ChatGPT dan kegiatan pengamatan fenomena cuaca berhasil
menciptakan model pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan menyenangkan.
Melalui metode ini, siswa tumbuh menjadi individu yang lebih peka terhadap
perubahan lingkungan, cerdas dalam memanfaatkan teknologi digital, serta
memiliki rasa ingin tahu ilmiah yang tinggi terhadap berbagai fenomena sains
yang terjadi di sekitarnya.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia