Membangun Ekosistem Belajar yang Menghargai Proses di Atas Angka Capaian
Membangun Ekosistem Belajar yang Menghargai Proses di Atas Angka Capaian
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Budaya yang terlalu memuja angka capaian dalam sistem pendidikan kita sering kali mengaburkan makna sejati dari sebuah proses pembelajaran yang mendalam. Fokus yang berlebihan pada skor ujian akhir telah menciptakan atmosfer kompetisi yang tidak sehat dan cenderung mendorong praktik-praktik yang tidak jujur. Kita perlu merekonstruksi ekosistem belajar agar kembali menghargai setiap tetes keringat dan usaha keras siswa dalam memahami suatu konsep keilmuan tertentu. Pendidikan seharusnya menjadi tempat di mana kesalahan dipandang sebagai bagian penting dari penemuan, bukan sebagai noda yang harus dihindari dengan segala cara. Refleksi ini mengajak kita untuk bertanya, apakah kita sedang mendidik manusia yang kreatif atau hanya sedang mencetak mesin penjawab soal ujian. Menghargai proses berarti memberikan ruang bagi rasa ingin tahu untuk tumbuh tanpa harus terburu-buru oleh tenggat waktu penilaian yang sangat kaku.
Ekosistem belajar yang sehat harus memberikan apresiasi yang sama besarnya antara hasil akhir dan ketekunan yang ditunjukkan oleh siswa selama belajar. Ketika proses dihargai, siswa akan lebih berani mengambil risiko intelektual dan mencoba metode-metode baru yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh orang lain. Hal ini sangat penting untuk menumbuhkan mentalitas pembelajar sepanjang hayat yang tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan yang sangat sulit sekalipun. Pendidik perlu merancang sistem penilaian formatif yang memberikan umpan balik secara berkala guna membantu perkembangan siswa secara terus-menerus dan berkelanjutan. Penilaian tidak boleh lagi bersifat menghukum, melainkan harus bersifat membimbing agar siswa tahu bagian mana yang perlu diperbaiki dan dikembangkan lebih lanjut. Dengan mengalihkan fokus dari angka ke pertumbuhan, kita sedang membangun fondasi kepercayaan diri yang kuat dalam setiap sanubari peserta didik kita.
Selain di sekolah, paradigma menghargai proses juga harus diadopsi oleh orang tua dalam mendampingi perkembangan anak-anak mereka di lingkungan rumah masing-masing. Tekanan dari keluarga untuk mendapatkan nilai sempurna sering kali menjadi pemicu utama stres dan gangguan kecemasan pada anak-anak usia sekolah saat ini. Orang tua perlu menyadari bahwa kematangan karakter dan keterampilan hidup jauh lebih menentukan kesuksesan jangka panjang daripada sekadar peringkat di dalam kelas. Percakapan di meja makan seharusnya lebih banyak menanyakan tentang hal baru apa yang dipelajari hari ini daripada menanyakan berapa nilai ujiannya. Dengan dukungan lingkungan yang suportif, anak akan merasa aman untuk mengeksplorasi minatnya secara mendalam tanpa rasa takut akan penghakiman orang dewasa. Inilah warisan pola pikir yang akan membuat mereka tetap tangguh di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat dan dinamis.
Perubahan budaya ini tentu membutuhkan dukungan kebijakan dari otoritas pendidikan untuk mengurangi beban administrasi yang hanya berbasis pada data-data kuantitatif semata. Evaluasi kualitas sekolah harus mulai menyertakan indikator-indikator kualitatif seperti tingkat kebahagiaan siswa, kreativitas guru, dan dampak positif terhadap lingkungan sosial sekitar. Kurikulum harus dirancang sedemikian rupa agar memberikan fleksibilitas bagi guru untuk menyesuaikan kecepatan mengajar dengan daya serap unik setiap siswa. Kita harus berani meninggalkan sistem peringkat yang cenderung memecah belah dan menggantinya dengan kolaborasi yang saling menguatkan antarindividu di dalam kelas. Pendidikan adalah maraton jangka panjang, bukan lari cepat yang hanya mengejar garis finis tanpa menikmati perjalanan intelektual yang ada di depannya. Dengan ekosistem yang tepat, setiap proses belajar akan menjadi pengalaman yang bermakna dan tidak akan pernah terlupakan sepanjang hayat mereka.
Sebagai penutup refleksi di penghujung Januari, mari kita berkomitmen untuk memanusiakan kembali proses pendidikan yang selama ini mungkin terasa terlalu mekanistis. Mari kita rayakan setiap kemajuan kecil yang dicapai oleh anak-anak kita dengan penuh rasa bangga dan dukungan yang tulus tanpa syarat apa pun. Masa depan yang cerah hanya dapat dibangun oleh individu-individu yang mencintai proses belajar dan memiliki rasa penasaran yang tidak pernah padam. Pendidikan adalah warisan tentang cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak secara bijaksana dalam menghadapi berbagai kompleksitas dunia yang ada. Jangan biarkan angka-angka di atas kertas menentukan harga diri seorang manusia yang memiliki potensi tanpa batas dalam dirinya yang unik itu. Mari kita bangun dunia di mana setiap usaha dihargai dan setiap proses dianggap sebagai kemenangan kecil menuju kedewasaan yang sejati bagi semua anak bangsa.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.