Membangun Empati Digital untuk Mencegah Perundungan Siber
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Membangun empati digital sejak dini di tingkat sekolah dasar merupakan langkah fundamental guna memitigasi risiko perundungan siber yang semakin marak terjadi di lingkungan pendidikan formal. Empati digital adalah kemampuan untuk memahami, merasakan, serta menghargai perspektif dan perasaan orang lain saat berinteraksi melalui media elektronik yang tanpa batasan fisik. Kurangnya kontak mata dan kehadiran fisik di dunia maya sering kali melunturkan rasa kemanusiaan sehingga individu merasa lebih bebas untuk melakukan perundungan terhadap sesama. Pendidikan karakter di sekolah harus mampu menyentuh dimensi virtual agar siswa menyadari bahwa luka batin akibat kata-kata di layar sama pedihnya dengan kekerasan fisik. Oleh karena itu, penanaman nilai empati harus menjadi ruh utama dalam setiap kurikulum literasi digital demi terciptanya ruang siber yang aman dan harmonis.
Guru harus secara aktif mengintegrasikan pembelajaran mengenai kecerdasan emosional dalam setiap aktivitas yang melibatkan penggunaan teknologi komunikasi antar-siswa di ruang kelas. Melalui metode bermain peran atau diskusi kasus, siswa diajak untuk membayangkan posisi korban perundungan siber agar tumbuh rasa solidaritas serta keinginan untuk melindungi sesama. Siswa perlu diajarkan mengenai perbedaan antara candaan yang sehat dan ejekan yang merendahkan martabat orang lain di dalam grup pesan singkat atau media sosial. Pendidik harus menegaskan bahwa diam saat melihat perundungan siber adalah bentuk pembiaran yang tidak selaras dengan nilai-nilai keberadaban bangsa Indonesia yang luhur. Pembangunan empati akan membentuk sistem imunitas moral yang mencegah siswa menjadi pelaku maupun pendukung tindakan perundungan di jagat maya secara sistematis.
Selain peran guru, pihak sekolah wajib menyediakan kanal pelaporan yang aman dan anonim bagi siswa yang menjadi korban atau saksi mata tindakan perundungan siber. Respons yang cepat dan bijaksana dari sekolah terhadap setiap laporan akan memberikan rasa perlindungan serta keadilan bagi korban yang mengalami trauma psikologis mendalam. Program edukasi mengenai literasi hukum sederhana terkait Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik perlu diberikan agar siswa memahami konsekuensi hukum dari tindakan perundungan. Membangun budaya sekolah yang mengedepankan penghargaan terhadap keberagaman akan meminimalkan potensi konflik yang bermuara pada aksi diskriminasi digital di kalangan para peserta didik. Empati yang terwujud dalam tindakan nyata akan menjadi benteng pertahanan utama bagi keutuhan mental dan sosial seluruh warga sekolah tanpa kecuali.
Peran orang tua di rumah sangatlah krusial dalam memantau perubahan suasana hati anak yang mungkin menjadi indikator adanya masalah dalam interaksi digital mereka sehari-hari. Orang tua harus menjadi pendengar yang baik serta memberikan rasa aman agar anak berani bercerita mengenai pengalaman pahit yang mereka alami di dunia maya. Mengajarkan anak untuk selalu menggunakan bahasa yang santun dan menghindari konfrontasi digital yang tidak perlu adalah bagian dari pendidikan etika keluarga yang sangat mendasar. Kerja sama antara orang tua dan sekolah dalam menangani kasus perundungan siber harus dilakukan dengan pendekatan restoratif yang bertujuan pada perbaikan perilaku dan pemulihan hubungan sosial. Dukungan emosional yang kuat dari lingkungan terdekat akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang resilien dan penuh kasih sayang terhadap sesama manusia.
Sebagai penutup, membangun empati digital adalah upaya kolektif untuk memanusiakan kembali interaksi di ruang virtual yang sering kali terasa dingin dan penuh dengan kebencian. Kita memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak menghilangkan rasa kemanusiaan dan adab dalam diri generasi penerus bangsa Indonesia tercinta. Generasi yang berempati tinggi akan mampu mengubah dunia maya menjadi sarana kolaborasi yang positif dan inspiratif bagi kemajuan peradaban manusia yang mulia. Mari kita tanamkan benih-benih kasih sayang di setiap klik dan kata yang kita tuliskan di jagat maya sebagai wujud nyata dari literasi digital yang beradab. Dengan empati yang kokoh, perundungan siber akan terkikis habis dan berganti dengan harmoni persaudaraan digital yang membanggakan bagi seluruh rakyat Indonesia.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.