Membangun Logika, Menghapus Luka: Mengapa Anak SD Butuh Belajar Solusi?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Upaya menghapus trauma belajar di
tingkat sekolah dasar kini difokuskan pada penguatan logika melalui pendekatan
solusi masalah nyata. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya
angka kecemasan siswa akibat beban hafalan yang dianggap tidak manusiawi untuk
anak usia dini. Pemerintah dan praktisi pendidikan sepakat bahwa mengajar anak
untuk mencari solusi jauh lebih penting daripada memaksa mereka menghafal
deretan fakta yang akan segera dilupakan setelah ujian berakhir.
Trauma belajar sering
kali berawal dari perasaan "bodoh" karena tidak mampu menghafal
secepat teman sejawat. Padahal, setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda
dan keunikan kognitif yang tidak bisa diseragamkan oleh tes hafalan. Dengan metode
pemecahan masalah, setiap anak diberikan kesempatan untuk menunjukkan kelebihan
mereka melalui berbagai sudut pandang solusi. Hal ini secara efektif menghapus
luka batin anak-anak yang selama ini merasa terpinggirkan oleh sistem penilaian
konvensional yang sempit.
Secara pedagogis, belajar
berbasis solusi merangsang perkembangan otak kiri dan kanan secara seimbang.
Siswa tidak hanya menggunakan logika untuk memecahkan masalah matematika,
tetapi juga imajinasi untuk memprediksi hasil dari solusi yang mereka tawarkan.
Keseimbangan ini menciptakan pengalaman belajar yang utuh dan bermakna,
menjauhkan siswa dari rasa bosan yang memicu depresi akademik. Pendidikan harus
menjadi proses pertumbuhan, bukan proses penekanan potensi melalui standar
hafalan yang kaku.
Pihak sekolah kini mulai
mengadopsi kurikulum berbasis proyek yang memungkinkan siswa untuk belajar
lintas disiplin ilmu dalam satu masalah. Misalnya, dalam proyek membuat kebun
sekolah, siswa belajar biologi, matematika untuk mengukur lahan, hingga literasi
untuk menulis laporan. Pendekatan holistik ini membuat belajar terasa nyata dan
bermanfaat, menghilangkan persepsi bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang
abstrak dan hanya ada di buku-buku tebal yang harus dihafal.
Menghapus trauma belajar
adalah janji kita pada generasi masa depan untuk memberikan pendidikan yang
lebih adil dan manusiawi. Saat kita berhenti menuntut anak untuk menghafal dan
mulai mengajak mereka untuk berpikir, kita sedang membuka pintu menuju kemajuan
bangsa yang sesungguhnya. Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat yang
dirindukan anak-anak, tempat di mana ide-ide besar bermula dari keberanian
memecahkan masalah sederhana.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah