Membedah Psikologi Makan: Bagaimana Nutrisi Mengubah Perilaku Belajar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program Makan
Siang Bergizi Gratis yang kini masif diterapkan di berbagai sekolah dasar (SD)
di Indonesia sejak awal 2025, bukan sekadar urusan logistik pangan, melainkan
intervensi psikologis pada saraf kognitif anak. Berdasarkan studi neurosains,
asupan glukosa yang stabil dari karbohidrat kompleks dan asam amino dari
protein esensial sangat menentukan kemampuan transmisi sinyal di otak. Dengan
menyediakan makan siang yang terukur nutrisinya, sekolah kini berperan aktif
dalam memastikan kesiapan mental siswa untuk menyerap pelajaran di jam-jam
krusial setelah istirahat.
Fenomena sugar rush
dan food coma yang sering dialami siswa akibat jajanan sembarangan mulai
terkikis dengan adanya menu seimbang. Data lapangan menunjukkan bahwa
stabilitas energi yang didapat dari makan siang bergizi berkorelasi positif
dengan durasi konsentrasi siswa di dalam kelas. Siswa tidak lagi merasa lemas
atau hiperaktif karena lonjakan gula darah yang tidak teratur, yang sering kali
menjadi penghambat utama dalam proses belajar-mengajar.
Lebih jauh lagi, makan
siang bersama menciptakan ruang sosial yang menumbuhkan kecerdasan emosional
dan etika makan (table manners). Di sini, literasi gizi tidak hanya
diajarkan lewat teori, tetapi melalui praktik menghargai makanan dan memahami
porsi. Guru-guru di lapangan melaporkan adanya penurunan tingkat agresivitas
siswa setelah pola makan sehat ini diterapkan secara konsisten selama satu
semester.
Perspektif psikologi
perkembangan menekankan bahwa anak usia SD sedang berada pada fase pembentukan habitus
atau kebiasaan hidup. Ketika sekolah memberikan standar makanan yang sehat,
anak secara bawah sadar akan melakukan kalibrasi ulang terhadap selera rasa
mereka. Rasa asin dan manis yang berlebihan dari penyedap rasa buatan mulai
digantikan oleh rasa alami dari bahan pangan segar, yang merupakan kemenangan
besar bagi literasi kesehatan.
Namun, keberhasilan ini
menuntut sinergi antara lingkungan sekolah dan rumah agar tidak terjadi
dualisme pola makan. Orang tua perlu diberikan edukasi agar apa yang sudah
dibangun di sekolah tidak rusak oleh pola makan instan di rumah. Konsistensi
inilah yang akan membentuk karakter anak yang disiplin terhadap kesehatan
dirinya sendiri.
Investasi pada nutrisi
adalah investasi pada kesehatan mental dan ketangguhan psikologis generasi
mendatang. Jika anak-anak kita tumbuh dengan tubuh yang tercukupi gizinya,
mereka akan memiliki regulasi emosi yang lebih baik dan daya juang intelektual
yang lebih tinggi. Program ini adalah langkah nyata dalam merawat kesehatan
mental bangsa dari hulu.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah