Membongkar Cara Lama Memahami Alam dan Menyusun Pola Pikir Baru
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Cara manusia memahami alam selama ini banyak dipengaruhi oleh kebiasaan lama yang diwariskan tanpa banyak pertanyaan. Alam kerap diposisikan sebagai ruang eksternal yang terpisah dari kehidupan manusia. Ia dilihat sebagai sesuatu yang bisa diatur, dimanfaatkan, dan ditinggalkan ketika tidak lagi menguntungkan. Cara pandang ini membentuk relasi yang timpang dan berjarak. Akibatnya, krisis ekologis sering dianggap sebagai masalah teknis, bukan refleksi kegagalan berpikir. Untuk keluar dari situasi ini, diperlukan pembongkaran cara lama memahami alam. Dari proses inilah pola pikir hijau yang lebih relevan dapat disusun.
Membongkar cara lama bukan berarti menolak seluruh warisan pemikiran sebelumnya. Proses ini justru menuntut keberanian untuk memilah mana yang masih relevan dan mana yang perlu ditinggalkan. Individu diajak melihat bahwa banyak konsep kemajuan dibangun di atas asumsi eksploitasi. Ketika asumsi ini dipertanyakan, muncul ruang untuk alternatif yang lebih berimbang. Alam mulai dipahami sebagai sistem hidup, bukan sekadar latar pembangunan. Pergeseran ini mengubah dasar pengambilan keputusan.
Pola pikir baru tentang alam menuntut kesadaran akan keterbatasan. Setiap sumber daya memiliki ambang yang tidak bisa dilampaui tanpa konsekuensi. Kesadaran ini melatih individu untuk berpikir jangka panjang. Pilihan tidak lagi didasarkan pada keuntungan sesaat, tetapi pada keberlanjutan. Cara berpikir semacam ini menumbuhkan kehati-hatian yang produktif. Kehati-hatian tersebut menjadi bentuk tanggung jawab ekologis.
Perubahan cara memahami alam juga memengaruhi cara manusia memaknai diri sendiri. Individu tidak lagi melihat dirinya sebagai penguasa tunggal, melainkan sebagai bagian dari jaringan kehidupan. Kesadaran ini melahirkan sikap rendah hati terhadap alam. Kerendahan hati membuka ruang belajar yang lebih luas. Alam tidak lagi ditantang untuk ditaklukkan, tetapi diajak untuk dipahami. Relasi ini membangun kedekatan yang lebih etis.
Dalam konteks sosial, pembongkaran cara lama memunculkan dialog baru. Diskusi tentang lingkungan tidak lagi bersifat normatif dan menggurui. Sebaliknya, ia menjadi ruang refleksi kolektif tentang arah hidup bersama. Individu saling berbagi pengalaman dan kegelisahan ekologis. Dari sini tumbuh kesadaran bahwa krisis lingkungan adalah persoalan bersama. Solidaritas terbentuk melalui pemahaman, bukan paksaan.
Pola pikir baru juga mendorong perubahan dalam cara bertindak. Tindakan kecil dipahami sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Tidak ada lagi anggapan bahwa kontribusi individu tidak berarti. Setiap pilihan dilihat sebagai potongan dari perubahan kolektif. Kesadaran ini memperkuat motivasi untuk konsisten. Kepedulian lingkungan menjadi praktik sehari-hari yang sadar.
Pada akhirnya, membongkar cara lama memahami alam adalah langkah awal menuju relasi yang lebih sehat. Pola pikir hijau yang lahir dari proses ini tidak bersifat dogmatis. Ia tumbuh melalui refleksi, dialog, dan kesediaan untuk berubah. Dengan pola pikir semacam ini, hubungan manusia dan alam dapat disusun ulang secara lebih adil. Inilah fondasi penting bagi masa depan yang berkelanjutan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah