Memecah Batas Bahasa: Google Translate dalam Proyek Labelisasi Fasilitas Multibahasa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam upaya mewujudkan pendidikan yang benar-benar inklusif dan ramah terhadap komunitas global (SDG 4 dan SDG 10), sekolah dasar meluncurkan proyek labelisasi fasilitas multibahasa yang didukung oleh Google Translate. Siswa ditugaskan untuk membuat label nama-nama ruangan, fasilitas umum (seperti toilet, kantin, atau perpustakaan), dan petunjuk keselamatan di lingkungan sekolah dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan dua bahasa asing atau daerah lainnya.
Proses proyek dimulai dengan identifikasi istilah. Siswa mencari kata-kata baku untuk setiap fasilitas (misalnya, "Ruang Guru", "Tempat Sampah", "Jalur Evakuasi"). Kemudian, mereka menggunakan Google Translate untuk mendapatkan terjemahan dari kata-kata tersebut. Tahap krusial di sini adalah verifikasi. Siswa tidak langsung menelan mentah-mentah hasil translate mesin, melainkan mencari referensi silang atau berdiskusi dengan guru bahasa asing untuk memastikan terjemahan yang digunakan tidak hanya harfiah, tetapi juga kontekstual dan baku dalam bahasa tersebut.
Kegiatan ini secara langsung mendukung pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, sekaligus menanamkan kesadaran tentang pentingnya aksesibilitas informasi. Siswa belajar bahwa label multibahasa sangat membantu pengunjung asing, orang tua dari latar belakang budaya berbeda, atau bahkan siswa baru yang masih beradaptasi. Sekolah menjadi miniatur lingkungan multikultural yang menghargai keberagaman.
Hasil label yang dicetak dan ditempel di seluruh area sekolah menjadi produk nyata dari pembelajaran mereka. Proyek ini mengajarkan siswa tentang desain komunikasi dan pentingnya kejelasan dalam penyampaian pesan. Mereka memahami bahwa Google Translate adalah alat berharga untuk memecah hambatan bahasa dan memfasilitasi inklusi sosial dan akademik.
Dengan memanfaatkan Google Translate sebagai alat utama, sekolah dasar memberikan contoh konkret tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membangun lingkungan fisik yang secara aktif mendukung SDG 10, membuat setiap orang, tanpa memandang latar belakang bahasa, merasa diterima dan diarahkan dengan baik.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia