Memutus Rantai Kemiskinan: Gizi sebagai Eskalator Mobilitas Sosial
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program Makan
Siang Bergizi Gratis di SD negeri dan swasta kini dipandang sebagai instrumen
vital untuk memutus siklus kemiskinan antar-generasi di Indonesia. Berdasarkan
data sosiopedagogi, ketimpangan asupan nutrisi pada masa kanak-kanak merupakan
salah satu penyebab utama rendahnya capaian pendidikan di keluarga
prasejahtera. Dengan intervensi makan siang gratis yang berkualitas, negara
hadir untuk memastikan bahwa faktor ekonomi orang tua tidak lagi menjadi
penghalang bagi anak untuk memiliki fungsi otak yang optimal.
Literasi gizi di sini
berfungsi sebagai alat pembebasan, di mana anak-anak dari keluarga miskin
mendapatkan akses informasi dan konsumsi yang sama dengan anak-anak dari
keluarga mampu. Ketimpangan kognitif yang selama ini terjadi akibat perbedaan
kualitas sarapan dan makan siang kini dapat ditekan seminimal mungkin. Ini
adalah upaya demokratisasi kesehatan yang paling mendasar di dalam sistem
pendidikan kita.
Secara teoritis,
perbaikan gizi di usia dini akan meningkatkan IQ dan produktivitas anak di masa
depan, yang pada gilirannya akan meningkatkan kapasitas penghasilan mereka saat
dewasa. Inilah yang disebut sebagai "eskalator nutrisi" untuk mobilitas
sosial vertikal. Tanpa intervensi ini, anak-anak dari keluarga kurang mampu
akan terus terjebak dalam lingkaran setan kurang gizi dan prestasi rendah.
Namun, literasi gizi
tidak boleh berhenti pada pemberian makanan saja; ia harus mencakup edukasi
tentang pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Sekolah harus memastikan bahwa air
bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai tersedia agar nutrisi yang masuk dapat
diserap secara maksimal oleh tubuh siswa. Sinergi antara gizi dan sanitasi
adalah syarat mutlak bagi efektivitas program ini.
Para kritikus kebijakan
menekankan perlunya evaluasi berkala terhadap dampak jangka panjang program ini
terhadap indeks pembangunan manusia (IPM) di daerah tertinggal. Keberhasilan
tidak boleh hanya diukur dari jumlah porsi yang dibagikan, melainkan dari
peningkatan skor akademis dan penurunan angka absensi karena sakit. Data-data
inilah yang akan membuktikan bahwa makan siang gratis adalah investasi, bukan
beban negara.
Negara yang kuat dibangun
oleh warga negara yang sehat sejak kecil. Dengan menjamin satu porsi makan
siang bergizi setiap hari, kita sedang membangun fondasi bagi Indonesia Emas
2045. Ini adalah janji kemerdekaan untuk memastikan setiap anak, dari mana pun
asalnya, memiliki modal fisik yang cukup untuk bertarung di masa depan.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah