Memutus Rantai Trauma: Mengapa Belajar Berbasis Masalah adalah Kunci di SD?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sistem pendidikan dasar mulai
menyadari bahwa metode "kejar tayang" materi melalui hafalan telah
menjadi akar dari ketakutan siswa terhadap sekolah. Sebagai solusinya,
pendekatan pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) kini
gencar dipromosikan untuk menggantikan tradisi menghafal yang sering kali
meninggalkan luka psikologis berupa rasa rendah diri jika gagal mengingat
materi. Langkah ini bertujuan untuk mengembalikan kegembiraan belajar yang
selama ini terenggut oleh standar kelulusan yang hanya mengukur kapasitas
memori.
Fakta di lapangan
menunjukkan bahwa siswa yang belajar dengan cara menghafal cenderung mengalami
kecemasan tinggi saat menghadapi ujian. Sebaliknya, pendekatan pemecahan
masalah memberikan rasa keberdayaan pada anak karena mereka melihat hasil nyata
dari apa yang mereka pelajari. Ketika seorang siswa SD berhasil memecahkan
masalah sederhana tentang pembagian sumber daya di kelas, mereka tidak hanya
belajar matematika, tetapi juga membangun kepercayaan diri yang akan menghapus
persepsi bahwa sekolah adalah tempat yang menakutkan.
Pergeseran ini juga
merespons tuntutan kompetensi global yang lebih menghargai kemampuan adaptasi
daripada penguasaan data statis. Di era digital, informasi tersedia secara
instan, sehingga menghafal fakta menjadi kurang relevan dibandingkan kemampuan
menyaring dan menghubungkan fakta tersebut untuk mencari solusi. Analisis
kebijakan pendidikan menegaskan bahwa siswa yang terbiasa memecahkan masalah
sejak bangku SD memiliki ketahanan (resilience) yang lebih baik dalam
menghadapi tantangan hidup yang kompleks di masa depan.
Guru memegang peranan
vital dalam memastikan transisi ini tidak menambah beban baru bagi siswa.
Alih-alih memberikan tugas menghafal definisi, guru kini didorong untuk
melemparkan pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana jika".
Perubahan interaksi ini menciptakan ikatan emosional yang positif antara guru
dan murid, yang merupakan kunci utama untuk menghapus trauma belajar. Siswa
merasa didengar dan dihargai pendapatnya, bukan sekadar dianggap sebagai botol
kosong yang siap diisi informasi tanpa saring.
Penghapusan trauma
belajar melalui pemecahan masalah adalah investasi jangka panjang bagi
kesehatan mental bangsa. Dengan menciptakan lingkungan kelas yang suportif
terhadap eksplorasi, kita sedang menanamkan benih pemikir kritis yang tidak
mudah menyerah pada keadaan. Sudah saatnya sekolah menjadi tempat di mana
solusi ditemukan, bukan tempat di mana keunikan anak diseragamkan oleh standar
hafalan yang sempit.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah