Menakar Dampak Algoritma Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —
Dunia pendidikan dasar saat ini menghadapi tantangan tak kasat mata namun
sangat kuat bernama algoritma media sosial, yang secara sistematis menyaring
informasi berdasarkan preferensi pengguna dan menciptakan ruang gema (echo
chamber) bagi siswa SD. Di platform seperti TikTok, anak-anak disuguhi
konten yang seringkali mengabaikan struktur logika dan bukti empiris demi
mengejar viralitas. Hal ini sangat berpengaruh pada cara siswa sekolah dasar
memproses informasi tertulis, karena mereka mulai terbiasa menerima kebenaran
berdasarkan popularitas, bukan validitas data. Padahal, literasi membaca yang
diuji dalam PISA sangat menekankan pada kemampuan mengevaluasi kredibilitas
teks dan mengidentifikasi bias.
Ketidakmampuan
siswa dalam membedakan fakta dan opini menjadi konsekuensi nyata dari konsumsi
konten digital yang tanpa filter sejak usia dini. Di dalam kelas, banyak guru
melaporkan bahwa siswa cenderung menerima mentah-mentah informasi dari video
singkat tanpa mempertanyakan siapa pembuatnya atau apa tujuannya. Kondisi ini
sangat kontras dengan tujuan literasi abad ke-21 yang menuntut siswa untuk
memiliki skeptisisme sehat dan kemampuan verifikasi lintas media guna membangun
pemahaman yang komprehensif. Jika algoritma terus mendikte apa yang harus
dikonsumsi anak, maka kemampuan berpikir mandiri mereka berada dalam ancaman
serius.
Secara
kognitif, algoritma menciptakan pola "pencarian konfirmasi" (confirmation
bias) yang sangat dini. Anak-anak hanya akan melihat apa yang mereka sukai,
sehingga mereka jarang terpapar pada sudut pandang yang berbeda atau tantangan
intelektual yang membangun. Hal ini berakibat pada rendahnya skor literasi PISA
dalam aspek evaluasi dan refleksi, karena siswa tidak terbiasa menghadapi teks
yang menantang keyakinan mereka. Dalam konteks pendidikan, ini berarti kita
sedang menghadapi risiko fragmentasi pemahaman sosial yang dimulai sejak bangku
sekolah dasar.
Dampak
negatif lainnya adalah penurunan kemampuan penalaran deduktif. Karena konten
video pendek biasanya langsung memberikan kesimpulan tanpa menunjukkan proses
berpikirnya, siswa menjadi malas untuk menelusuri alur logika dalam sebuah bacaan.
Mereka ingin langsung tahu "apa" hasilnya, tanpa mau memahami
"mengapa" dan "bagaimana" hal itu bisa terjadi. Pola pikir
yang instan ini sangat berbahaya bagi mata pelajaran seperti sains dan
matematika yang membutuhkan ketelitian prosedural. Tanpa kemampuan bernalar
yang baik, literasi membaca hanya akan menjadi aktivitas mekanis yang hampa
makna.
Pemerintah
dan lembaga pendidikan harus menyadari bahwa literasi digital bukan sekadar
kemampuan mengoperasikan gawai atau aplikasi, tetapi kemampuan bernalar di
tengah ekosistem digital yang manipulatif. Integrasi kurikulum yang mengajarkan
struktur argumen dan logika dasar sejak sekolah dasar menjadi sangat mendesak.
Anak-anak perlu diajarkan bahwa apa yang muncul di beranda mereka bukanlah
kebenaran mutlak, melainkan hasil dari perhitungan mesin yang bertujuan untuk
membuat mereka tetap terjaga di depan layar. Inilah yang disebut dengan
pendidikan melek algoritma sebagai bagian dari literasi modern.
Selain
kurikulum, pendekatan pengajaran di kelas harus lebih banyak melibatkan debat
dan diskusi kritis mengenai isu-isu yang sedang viral. Guru dapat mengajak
siswa untuk mencari bukti-bukti pendukung dari buku teks atau sumber berita
kredibel untuk menguji kebenaran sebuah konten media sosial. Dengan cara ini,
siswa belajar untuk tidak menjadi pion algoritma, melainkan menjadi pengguna
yang cerdas dan memiliki kendali penuh atas informasi yang mereka konsumsi.
Membangun resiliensi kognitif sejak dini adalah investasi terbaik untuk menjaga
kualitas nalar publik di masa depan.
Tanpa
intervensi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan, generasi masa depan
kita berisiko menjadi konsumen informasi yang reaktif namun sangat lemah dalam
analisis. Hal ini pada akhirnya akan menurunkan daya saing bangsa di kancah
internasional karena kemajuan sebuah negara sangat bergantung pada kualitas
literasi dan berpikir kritis warganya. Oleh karena itu, memerangi dampak
negatif algoritma bukan hanya soal memperbaiki skor PISA, melainkan soal
menyelamatkan kewarasan dan kecerdasan kolektif generasi mendatang agar tidak
terjebak dalam kedangkalan berpikir yang permanen.
###
Penulis:
Nur Santika Rokhmah