Menakar Kesiapan Nalar Kritis dalam Lanskap Kurikulum Merdeka
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Kurikulum Merdeka hadir sebagai respons terhadap kebutuhan akan pembelajaran yang lebih relevan dan adaptif. Di dalamnya tersimpan harapan besar terhadap lahirnya generasi yang mampu berpikir kritis. Namun pertanyaan yang jarang diajukan adalah sejauh mana kesiapan nalar kritis peserta didik dalam menghadapi kebebasan belajar tersebut. Kebebasan menuntut kapasitas berpikir yang matang. Tanpa kesiapan, kebebasan justru dapat membingungkan. Kurikulum Merdeka bukan hanya menuntut perubahan sistem, tetapi juga kesiapan kognitif. Tantangan ini sering luput dari perhatian karena lebih fokus pada perubahan bentuk pembelajaran. Padahal, kesiapan nalar kritis merupakan fondasi utama.
Kesiapan berpikir kritis tidak terbentuk secara instan. Ia membutuhkan pembiasaan menghadapi pertanyaan terbuka dan masalah kompleks. Dalam Kurikulum Merdeka, peserta didik dihadapkan pada situasi belajar yang lebih mandiri. Namun kemandirian tanpa kesiapan dapat memicu ketergantungan baru pada pola instan. Nalar kritis menuntut kemampuan mengelola ketidakpastian. Kurikulum Merdeka perlu memastikan bahwa proses belajar melatih kemampuan tersebut secara bertahap. Tanpa tahapan yang jelas, kebebasan menjadi beban.
Tantangan lain terletak pada kemampuan membaca dan memahami informasi. Nalar kritis berakar pada literasi yang kuat. Kurikulum Merdeka mendorong eksplorasi sumber belajar yang beragam. Namun eksplorasi tanpa kemampuan evaluatif berisiko menimbulkan kesalahpahaman. Peserta didik perlu dibekali strategi membaca kritis dan analitis. Tanpa itu, informasi hanya dikonsumsi, bukan dipahami. Kesiapan nalar kritis sangat bergantung pada kualitas literasi ini.
Selain literasi, kesiapan berpikir kritis juga dipengaruhi oleh kemampuan berargumentasi. Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi ekspresi pendapat. Namun ekspresi tanpa argumentasi tidak mencerminkan nalar kritis. Peserta didik perlu dilatih menyusun alasan yang logis dan koheren. Argumen bukan sekadar opini, melainkan hasil penalaran. Kurikulum Merdeka perlu menekankan proses pembentukan argumen ini secara konsisten.
Aspek emosional juga berperan dalam kesiapan berpikir kritis. Menghadapi perbedaan pendapat membutuhkan kematangan emosi. Kurikulum Merdeka membuka ruang dialog yang lebih luas. Namun tanpa kesiapan emosional, dialog dapat berubah menjadi konflik personal. Nalar kritis menuntut kemampuan memisahkan gagasan dari identitas diri. Kesiapan ini perlu dilatih melalui pengalaman dialog yang reflektif.
Kesiapan berpikir kritis juga berkaitan dengan kebiasaan mengevaluasi diri. Kurikulum Merdeka menyediakan ruang refleksi, tetapi refleksi sering belum dimanfaatkan secara optimal. Peserta didik perlu diajak menilai kekuatan dan kelemahan cara berpikir mereka. Evaluasi diri merupakan bagian penting dari nalar kritis. Tanpa evaluasi, proses belajar sulit berkembang.
Pada akhirnya, Kurikulum Merdeka menuntut kesiapan nalar kritis sebagai prasyarat keberhasilan. Kebebasan belajar bukan titik awal, melainkan titik lanjut dari pembiasaan berpikir. Jika kesiapan ini diabaikan, Kurikulum Merdeka berisiko menghasilkan kebebasan yang rapuh. Sebaliknya, jika kesiapan nalar kritis dibangun dengan serius, Kurikulum Merdeka dapat menjadi tonggak pembaruan berpikir yang substansial.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah