Menakar Warisan Intelektual: Refleksi Akhir Januari atas Kurikulum Masa Depan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Memasuki
minggu terakhir di bulan pertama tahun 2026, para praktisi dan pengamat
pendidikan nasional berkumpul dalam forum diskusi tahunan di Surabaya untuk
mengevaluasi arah kebijakan kurikulum bagi siswa Sekolah Dasar (SD). Pertemuan
ini menjadi krusial di tengah pergeseran paradigma global yang mulai
mempertanyakan relevansi metode hafalan dibandingkan dengan pengembangan logika
kritis sejak usia dini. Refleksi ini bertujuan untuk membedah kembali model
pendidikan seperti apa yang sedang kita siapkan untuk diwariskan kepada
Generasi Alfa agar mereka mampu menavigasi kompleksitas dunia yang kian tidak
menentu. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa pendidikan bukan sekadar
transfer informasi, melainkan pembangunan fondasi karakter dan kemampuan
adaptasi yang kokoh.
Dalam konteks akademik
S2, pendidikan dasar seharusnya dipandang sebagai instrumen "human
investment" jangka panjang yang memerlukan ketajaman visi dari para
pemangku kebijakan. Data menunjukkan bahwa anak-anak yang lulus SD di tahun
2026 ini akan menjadi tulang punggung angkatan kerja di tahun 2045, tepat pada
momen Indonesia Emas. Oleh karena itu, kurikulum yang kita wariskan hari ini
haruslah kurikulum yang memerdekakan nalar, bukan yang mengekang kreativitas
dengan standarisasi yang kaku. Analisis mendalam terhadap sistem penilaian saat
ini menunjukkan perlunya transisi dari evaluasi berbasis nilai angka menuju
evaluasi berbasis portofolio perkembangan kompetensi individu yang lebih
holistik dan manusiawi.
Pendidikan yang kita
wariskan juga harus menjawab tantangan literasi yang semakin kompleks, mulai
dari literasi digital hingga literasi finansial. Saat ini, siswa SD tidak hanya
berhadapan dengan buku teks, tetapi juga dengan banjir informasi di dunia maya
yang memerlukan filter kognitif yang tajam. Jika pendidikan tidak membekali
mereka dengan kemampuan verifikasi dan nalar logis, maka kita sebenarnya sedang
mewariskan kerentanan intelektual kepada mereka. Inovasi pendidikan harus
berani menyentuh aspek-aspek esensial ini, menjadikan ruang kelas sebagai
laboratorium berpikir di mana kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses
penemuan, bukan sebuah kegagalan yang memalukan.
Aspek sosial-emosional
menjadi pilar lain yang seringkali terlupakan dalam hingar-bingar digitalisasi
pendidikan. Warisan terbaik yang bisa kita berikan bukanlah penguasaan
algoritma semata, melainkan kemampuan untuk berempati, berkolaborasi, dan
berkomunikasi dengan efektif dalam keberagaman. Penelitian psikologi pendidikan
menekankan bahwa kecerdasan emosional yang dibangun di bangku SD merupakan
prediktor kesuksesan yang lebih akurat di masa dewasa dibandingkan skor IQ
murni. Di akhir Januari ini, kita diingatkan bahwa pendidikan adalah proses
memanusiakan manusia, yang berarti mengasah nurani sekaligus mengasah otak agar
selaras dalam menghadapi tantangan zaman yang kian impersonal.
Peran guru dalam narasi
pewarisan ini juga mengalami transformasi besar dari "pemberi ilmu"
menjadi "pemandu pembelajaran". Guru di era ini dituntut memiliki
literasi data yang baik untuk memetakan kebutuhan unik setiap siswa, sehingga
proses diferensiasi instruksional bukan lagi sekadar teori di atas kertas.
Tantangannya adalah bagaimana memastikan guru-guru kita memiliki dukungan
kesejahteraan dan pengembangan profesional yang cukup agar mereka tetap
antusias menjadi mentor bagi masa depan. Kualitas pendidikan yang kita wariskan
sangat bergantung pada kualitas interaksi yang terjadi di ruang-ruang kelas
setiap harinya, di mana inspirasi ditularkan dan rasa ingin tahu dirawat dengan
penuh kasih sayang.
Dukungan orang tua dan
komunitas juga menjadi variabel penentu dalam ekosistem pendidikan masa depan.
Pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada pundak sekolah saja; ia
memerlukan sinergi yang harmonis dengan lingkungan rumah. Refleksi akhir
Januari ini mengajak para orang tua untuk memikirkan kembali apakah mereka
menginginkan anak-anak yang hanya "pintar sekolah" atau anak-anak
yang "pintar hidup". Warisan pendidikan yang sejati adalah
kemandirian belajar yang tertanam kuat di hati setiap anak, sehingga mereka
tetap menjadi pembelajar sepanjang hayat meski sekolah formal telah lama mereka
tinggalkan.
Sebagai penutup, akhir
Januari ini bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum krusial untuk
memastikan bahwa kita tidak sedang mewariskan sistem yang usang. Pendidikan
yang kita berikan haruslah menjadi jembatan menuju fajar harapan, bukan dinding
yang membatasi mimpi anak-anak bangsa. Dengan mengedepankan integritas, nalar
kritis, dan empati, kita sedang menyusun masa depan Indonesia yang lebih cerdas
dan beradab. Mari kita pastikan bahwa warisan pendidikan ini adalah warisan
yang membuat anak-anak kita bangga menjadi diri mereka sendiri di tengah
persaingan dunia. Keberhasilan kita hari ini diukur dari seberapa tangguh
mereka berdiri di hari esok.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah