Menanamkan Etika Berkomunikasi di Ruang Publik Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Penanaman etika berkomunikasi di ruang publik digital merupakan langkah preventif yang krusial demi membentuk karakter siswa sekolah dasar yang santun dalam berinteraksi secara virtual. Sering kali, anonimitas dan jarak fisik di dunia maya membuat individu, termasuk anak-anak, cenderung mengabaikan norma kesopanan yang biasanya dijunjung tinggi dalam pertemuan tatap muka. Pendidikan etika digital harus dimulai dengan pemahaman bahwa di balik setiap akun terdapat manusia nyata yang memiliki perasaan serta martabat yang wajib dihormati. Siswa perlu diajarkan bahwa kata-kata yang diketik pada kolom komentar memiliki bobot moral yang setara dengan ucapan lisan dalam kehidupan sehari-hari di dunia nyata. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan dasar harus secara eksplisit memasukkan materi mengenai tata krama daring atau netiket guna mencegah munculnya perilaku toksik sejak dini.
Pendidik memegang peranan sebagai teladan dalam menunjukkan cara merespons perbedaan pendapat di media sosial dengan kepala dingin dan penggunaan bahasa yang tetap terjaga. Melalui simulasi di dalam kelas, siswa dapat dilatih untuk menyampaikan kritik secara konstruktif tanpa menggunakan kata-kata kasar atau ujaran kebencian yang bersifat provokatif. Pemahaman mengenai dampak psikologis dari komentar negatif harus diberikan melalui pendekatan empati agar siswa menyadari konsekuensi sosial yang luas dari tindakan mereka. Ruang kelas digital yang dikelola oleh sekolah dapat menjadi laboratorium praktik bagi siswa untuk belajar berdiskusi secara sehat, logis, dan tetap mengedepankan nilai kesantunan. Guru harus secara konsisten memantau serta memberikan umpan balik terhadap pola komunikasi siswa guna meluruskan persepsi yang keliru mengenai makna kebebasan berpendapat.
Selain aspek bahasa, etika digital juga mencakup penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual serta privasi orang lain saat beraktivitas di dunia maya yang tanpa batas. Siswa harus memahami bahwa menyebarkan foto atau informasi pribadi milik rekan mereka tanpa izin merupakan pelanggaran etika serius yang dapat merusak harmoni sosial. Mereka juga perlu dilatih untuk selalu mencantumkan sumber rujukan saat menggunakan karya atau ide orang lain dalam tugas-sekolah sebagai bentuk integritas akademik. Penanaman nilai kejujuran ini akan membantu siswa terhindar dari praktik plagiarisme yang sering kali terjadi akibat kemudahan akses informasi di berbagai mesin pencari. Etika yang kuat akan menjadi kompas moral bagi siswa agar tetap menjadi pribadi yang berintegritas di tengah godaan untuk bersikap instan dan tidak jujur.
Peran orang tua di rumah sangat signifikan dalam memperkuat apa yang telah diajarkan oleh guru mengenai etika berkomunikasi di dalam ruang digital yang dinamis. Orang tua perlu melakukan pengawasan terhadap aplikasi pesan singkat dan platform media sosial yang digunakan anak guna memastikan interaksi yang terjadi tetap santun. Diskusi terbuka mengenai contoh-contoh kasus komunikasi digital yang baik dan buruk di media massa dapat menjadi sarana edukasi keluarga yang sangat efektif. Konsistensi antara aturan di sekolah dan di rumah akan mempercepat proses internalisasi nilai-nilai etika dalam diri anak sehingga menjadi kebiasaan yang menetap. Sinergi ini merupakan kunci utama untuk menciptakan ekosistem digital Indonesia yang lebih sehat, ramah, dan bermartabat di mata dunia internasional secara berkelanjutan.
Sebagai penutup, menanamkan etika berkomunikasi digital adalah investasi moral yang luhur untuk menyelamatkan masa depan peradaban bangsa dari degradasi kesantunan sosial yang mengkhawatirkan. Kita tidak ingin melahirkan generasi yang cerdas secara teknologi, namun miskin akan adab serta empati saat berinteraksi dengan sesama di dalam ruang virtual. Kesantunan digital adalah cerminan dari kematangan budaya sebuah bangsa besar yang harus dipupuk sejak anak menginjakkan kaki di bangku sekolah dasar. Mari kita jadikan literasi etika sebagai prioritas utama guna memastikan setiap anak Indonesia tumbuh menjadi warga digital yang bijak dan penuh inspirasi. Dengan komunikasi yang beretika, dunia maya akan menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi pertumbuhan intelektual serta emosional generasi penerus bangsa yang kita cintai.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.