Mendongeng Bersama AI: Mengasah Imajinasi dan Keterampilan Naratif Siswa SD Lewat ChatGPT
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kemampuan bercerita atau naratif adalah salah
satu keterampilan literasi dasar yang sangat penting dikembangkan di Sekolah
Dasar (SD) karena berkaitan erat dengan kemampuan berbahasa, logika berpikir,
dan kreativitas. Kehadiran kecerdasan buatan seperti ChatGPT menawarkan metode
baru yang segar dalam pembelajaran menulis cerita kreatif. Guru dapat
memosisikan ChatGPT bukan sebagai pengganti penulis, melainkan sebagai mitra
kolaborasi (co-writer) bagi siswa. Dalam kegiatan ini, siswa diajak untuk
memberikan ide awal, karakter, atau latar tempat, kemudian meminta AI untuk
mengembangkan paragraf pembuka atau memberikan opsi alur cerita yang berbeda,
yang kemudian akan dilanjutkan kembali oleh siswa dengan imajinasi mereka
sendiri.
Pendekatan kreatif ini mendukung SDGs tujuan ke-4
(Pendidikan Berkualitas), khususnya dalam mengembangkan keterampilan relevan
untuk pekerjaan masa depan yang menuntut kreativitas tinggi dan kolaborasi
dengan teknologi. Dengan berinteraksi bersama ChatGPT, siswa belajar merumuskan
instruksi (prompt) yang jelas untuk mendapatkan hasil yang diinginkan,
sebuah keterampilan berpikir komputasional yang vital. Selain itu, proses
"mendongeng bersama" ini membantu mengatasi hambatan writer’s
block atau kebuntuan ide yang sering dialami siswa saat diminta mengarang,
sehingga kegiatan menulis menjadi lebih mengalir, menyenangkan, dan bebas
tekanan.
Guru memiliki peran krusial sebagai moderator untuk
memastikan konten cerita tetap mendidik dan sesuai dengan nilai-nilai moral.
Guru dapat mengarahkan siswa untuk menyisipkan pesan moral dalam cerita mereka,
seperti tentang persahabatan, kejujuran, atau gotong royong. ChatGPT dapat
diminta untuk memberikan saran konflik cerita yang harus dipecahkan oleh tokoh
utama dengan cara-cara damai dan cerdas. Hal ini melatih kemampuan pemecahan
masalah (problem solving) siswa melalui simulasi dalam cerita fiksi, sekaligus
menanamkan pendidikan karakter secara implisit namun efektif.
Selain itu, teknologi ini memungkinkan personalisasi
pembelajaran yang luar biasa. Setiap siswa dapat membuat cerita dengan genre
yang mereka sukai, mulai dari petualangan luar angkasa, misteri detektif,
hingga fabel dunia hewan, dengan bantuan ChatGPT yang adaptif. Kebebasan
berekspresi ini sangat penting untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap dunia
literasi (membaca dan menulis). Hasil karya cerita kolaboratif ini kemudian
dapat dikumpulkan menjadi buku antologi kelas digital atau dibacakan di depan
teman-teman, memberikan rasa bangga dan pencapaian tersendiri bagi siswa atas
kreativitas mereka.
Secara keseluruhan, integrasi ChatGPT dalam pembelajaran
naratif di SD adalah jembatan yang menghubungkan imajinasi liar anak-anak
dengan struktur bahasa yang baik. Ini adalah bentuk evolusi metode mendongeng
yang menggabungkan sentuhan manusiawi dengan kecanggihan mesin. Melalui cara
ini, sekolah tidak hanya mencetak siswa yang pandai teknologi, tetapi juga
siswa yang kreatif, mampu berpikir orisinal, dan terampil merangkai kata untuk
menyampaikan gagasan dan perasaan mereka kepada dunia.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia