Menembus Dinding Kelas: Menjembatani Matematika Rutin SD dengan Standar Penalaran Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kesenjangan antara kurikulum matematika di tingkat sekolah dasar (SD) dan tuntutan penalaran tingkat tinggi dalam standar PISA kini menjadi sorotan tajam bagi pengamat pendidikan di Indonesia pada awal tahun 2026. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai revisi kurikulum, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak guru SD masih merasa aman dengan metode pengajaran rutin yang berfokus pada hasil akhir daripada proses berpikir. Intro 5W+1H ini menggarisbawahi urgensi perubahan metode ajar agar siswa kita tidak hanya menjadi "pengingat rumus", tetapi juga "pemecah masalah" yang handal di panggung internasional.
Pembelajaran rutin di SD umumnya didominasi oleh pengerjaan soal yang bersifat algoritmik—langkah demi langkah yang sudah ditentukan. Hal ini memang memberikan rasa percaya diri pada siswa dalam hitungan teknis, namun seringkali mengabaikan aspek "Literasi Numerasi." Standar PISA menuntut siswa untuk mampu mengidentifikasi model matematika di balik fenomena sehari-hari yang berantakan dan tidak terstruktur. Tanpa kemampuan ini, siswa akan tetap kesulitan meski mereka memiliki kemampuan berhitung yang luar biasa.
Sebuah riset pendidikan menunjukkan bahwa siswa yang belajar matematika melalui konteks sosial dan lingkungan memiliki retensi ingatan yang lebih lama dibandingkan mereka yang belajar secara abstrak. Namun, hambatan utama di kelas-kelas SD Indonesia adalah keterbatasan materi ajar yang mengaitkan konsep matematika dengan realitas lokal. Buku teks seringkali masih menyajikan contoh-contoh yang jauh dari pengalaman hidup anak, sehingga matematika tetap menjadi subjek yang terisolasi di dalam dinding kelas.
Penerapan soal kontekstual menuntut fleksibilitas berpikir dari kedua belah pihak: guru dan siswa. Dalam konteks S2 Pendidikan, analisis terhadap "Mathematics-in-Context" menjadi kunci untuk mendesain perangkat pembelajaran yang responsif. Siswa SD perlu diajak keluar dari zona nyaman mereka; misalnya, daripada sekadar menghitung volume balok, mereka bisa diminta merancang kemasan produk UMKM yang hemat bahan namun mampu menampung volume maksimal.
Transformasi ini juga memerlukan perbaikan pada sistem asesmen di tingkat sekolah. Jika ujian sekolah masih menggunakan soal-soal rutin yang mengandalkan hafalan prosedur, maka motivasi guru untuk mengajarkan matematika kontekstual akan tetap rendah. Perlu ada keberanian dari otoritas pendidikan untuk mengubah format ujian menjadi lebih naratif dan menantang nalar, selaras dengan semangat PISA yang mengedepankan literasi membaca dan numerasi secara simultan.
Tantangan di era digital ini juga memberikan peluang, di mana visualisasi data dan simulasi interaktif dapat digunakan untuk membawa konteks dunia nyata ke dalam kelas. Siswa SD sekarang bisa melihat bagaimana data statistik digunakan dalam permainan olahraga atau bagaimana geometri digunakan dalam desain arsitektur digital. Teknologi harus menjadi jembatan, bukan sekadar pengganti papan tulis, untuk memperkuat pemahaman matematis siswa secara holistik.
Sebagai penutup, tantangan PISA sebenarnya adalah cermin bagi kualitas instruksional di kelas-kelas kita. Memperbaiki skor matematika nasional bukan tentang memperbanyak latihan soal, melainkan tentang mengembalikan hakikat matematika sebagai alat nalar. Jika kita mampu menyajikan matematika sebagai sesuatu yang hidup dan relevan bagi siswa SD, maka kejayaan pendidikan Indonesia bukan lagi sekadar impian, melainkan hasil logis dari pendidikan yang berkualitas dan bermakna.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah