Menembus Kabut Sinyal: Potret Ketimpangan Digital di Beranda Pendidikan Kita
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah
ambisi nasional menuju transformasi digital, ribuan siswa Sekolah Dasar (SD) di
wilayah pedesaan masih harus berjuang mencari sinyal di atas bukit, sementara
rekan sejawat mereka di pusat administrasi negara telah menikmati fasilitas Smart
Classroom berbasis AI sejak awal semester ini. Fenomena ini mengonfirmasi
adanya jurang lebar dalam akses teknologi pendidikan yang menciptakan kasta
baru dalam dunia pedagogi. Tanpa intervensi infrastruktur yang radikal, janji
pemerataan kualitas pendidikan hanya akan menjadi narasi indah di atas kertas
kebijakan yang gagal menyentuh realitas akar rumput.
Data menunjukkan bahwa
indeks literasi digital siswa di kawasan terpencil tertinggal jauh dibandingkan
mereka yang berada di kawasan mapan, bukan karena rendahnya minat, melainkan
ketiadaan perangkat. Di sekolah-sekolah unggulan, tablet menjadi pengganti buku
teks, sedangkan di pelosok, komputer seringkali hanya menjadi pajangan di
laboratorium yang kekurangan daya listrik. Ketimpangan ini menciptakan defisit
kompetensi yang akan berdampak pada daya saing anak bangsa di masa depan.
Secara teknis, disparitas
ini bukan hanya soal ketersediaan perangkat keras, tetapi juga mengenai
bandwidth internet yang tidak merata. Kecepatan akses yang timpang menyebabkan
platform pembelajaran daring seperti Learning Management System (LMS)
hanya bisa dinikmati oleh segelintir siswa. Kondisi ini memaksa guru di
pedesaan kembali ke metode konvensional, yang meski berdedikasi, tetap tidak
mampu mengejar ketertinggalan konten digital yang berkembang pesat.
Dampaknya, muncul apa
yang disebut oleh para sosiolog sebagai "Kemiskinan Informasi". Siswa
yang tidak terpapar teknologi digital sejak dini kehilangan kesempatan untuk
mengembangkan kemampuan berpikir komputasional (computational thinking).
Mereka menjadi penonton di tengah perlombaan global yang menuntut kefasihan
teknologi sebagai syarat mutlak mobilitas sosial.
Para pakar pendidikan
memperingatkan bahwa jika disparitas ini dibiarkan, kita sedang menyiapkan
generasi yang terbelah secara kognitif. Pemerintah daerah dan pusat harus
melakukan sinkronisasi anggaran untuk memastikan bahwa kabel serat optik
menjangkau setiap sudut sekolah, bukan hanya menumpuk di pusat-pusat keramaian.
Langkah ini krusial untuk memastikan bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia juga mencakup keadilan sinyal internet.
Investasi pada
infrastruktur digital di pedesaan bukan sekadar urusan teknis, melainkan
kewajiban moral untuk menjamin hak setiap anak atas informasi. Dengan akses
yang setara, potensi anak-anak di pedesaan dapat meledak menjadi prestasi yang
tidak kalah dengan anak-anak di kota besar. Masa depan Indonesia tidak boleh
ditentukan oleh di mana seorang anak dilahirkan, melainkan oleh sejauh mana
negara mampu menyediakan jembatan teknologi bagi mereka.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah