Mengajar dengan Canva, Belajar dari Dunia: Pendidikan SD dalam Bayang Inovasi dan Ketimpangan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dunia pendidikan dasar kini sedang mengalami pergeseran besar: ruang kelas tidak lagi terbatas pada papan tulis dan buku teks, tetapi telah merambah ke layar digital melalui platform seperti Canva. Aplikasi desain grafis ini menjadi alat populer di tangan guru dan siswa sekolah dasar yang ingin menggabungkan kreativitas, teknologi, dan nilai-nilai Sustainable Development Goals (SDGs) dalam satu pengalaman belajar. Namun, di balik semangat inovasi itu, tersimpan paradoks yang perlu dicermati secara kritis: apakah penggunaan Canva benar-benar membebaskan cara belajar anak, atau justru memperdalam ketimpangan dan ketergantungan baru terhadap teknologi komersial?
Canva memang membuka peluang besar bagi pendidikan kreatif. Siswa dapat mengekspresikan gagasan tentang “Aksi Iklim”, “Sekolah Ramah Lingkungan”, atau “Hemat Energi” melalui desain visual yang menarik. Aktivitas ini sejalan dengan SDGs poin 4 (Pendidikan Berkualitas) dan poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Di banyak sekolah, pembelajaran berbasis proyek dengan Canva terbukti meningkatkan motivasi dan kolaborasi antarsiswa. Namun, pertanyaannya: apakah seluruh siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses dan memahami teknologi ini? Dalam konteks pendidikan dasar di Indonesia yang masih sarat kesenjangan, Canva bisa menjadi simbol kemajuan sekaligus refleksi atas ketimpangan struktural antar sekolah.
Di sekolah-sekolah perkotaan, Canva diintegrasikan dengan baik ke dalam proyek Kurikulum Merdeka—siswa diajak membuat infografik kampanye lingkungan, desain poster digital, bahkan video edukasi sederhana. Tetapi di daerah yang masih terbatas akses internet dan perangkat, inovasi ini sulit diwujudkan. Guru seringkali harus mengandalkan metode manual yang tidak kalah bermakna, namun cenderung terpinggirkan karena dianggap “tidak digital”. Fenomena ini menciptakan jurang baru dalam pendidikan: digital divide yang mengancam prinsip SDGs tentang inklusivitas. Inovasi teknologi yang seharusnya menjadi jembatan, justru berpotensi menjadi tembok bagi sebagian siswa yang tertinggal.
Lebih jauh, penggunaan Canva juga menuntut literasi digital yang mendalam, baik bagi siswa maupun guru. Banyak guru mengaku masih berfokus pada hasil visual daripada makna edukatif dari karya yang dibuat siswa. Padahal, pembelajaran berbasis Canva seharusnya tidak berhenti pada estetika, tetapi mengasah empati dan tanggung jawab sosial. Guru perlu menanamkan pemahaman bahwa setiap desain adalah pesan: ajakan untuk bertindak demi bumi, bukan sekadar tugas yang dinilai dengan warna dan bentuk. Tanpa refleksi kritis, Canva bisa berubah menjadi sekadar platform komersial yang memperkuat budaya konsumsi digital, bukan kesadaran keberlanjutan.
Di titik inilah pendidikan dasar dihadapkan pada dilema antara inovasi dan keadilan. Canva, jika digunakan dengan bijak, mampu menumbuhkan generasi yang kreatif, sadar global, dan peduli lingkungan. Namun jika diterapkan tanpa refleksi dan pemerataan akses, ia hanya akan memperkuat kesenjangan yang telah ada. Pendidikan masa depan bukan hanya tentang menguasai alat digital, tetapi memahami arah dan dampaknya bagi kemanusiaan. Mengajar dengan Canva memang mengajak anak belajar dari dunia, tetapi tugas pendidik adalah memastikan bahwa semua anak, di mana pun mereka berada, tetap memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan menciptakan perubahan bagi dunia yang lebih berkelanjutan.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_Canva