Mengajarkan Matematika kepada Siswa Melalui Aktivitas Bertani
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Matematika sering dianggap sebagai pelajaran yang abstrak
dan sulit dipahami, terutama bagi siswa sekolah dasar. Namun, konsep matematika
dapat lebih mudah dipelajari dengan menggunakan hal-hal yang biasa kita lakukan
setiap hari. Berpartisipasi dalam kegiatan pertanian adalah salah satu
pendekatan inovatif untuk mengajarkan matematika. Bertani membutuhkan banyak
keterampilan berhitung selain menanam dan memanen. Misalnya, siswa dapat
belajar menghitung berapa banyak bibit yang diperlukan untuk setiap bedeng
sayuran ketika mereka menanam sayuran. Dari sini, guru dapat mengajarkan siswa
konsep perkalian, pembagian, dan bahkan pengukuran luas lahan. Mereka juga
belajar mengukur area tanam dengan mengukur satuan langsung panjang, lebar, dan
luas.
Perawatan tanaman juga membantu
siswa mempelajari matematika lebih lanjut. Saat menyiram tanaman, siswa dapat
mempelajari cara menghitung jumlah air yang diperlukan. Selain itu, mereka
dapat menghitung berapa lama waktu yang diperlukan hingga tanaman tumbuh dan
siap panen, yang membantu mereka belajar menghitung selisih waktu (hari atau
minggu). Siswa masih dapat mempelajari satuan berat, membandingkan
produktivitas antarbedeng, dan menimbang hasil hingga panen tiba. Metode ini
memiliki dua keuntungan: siswa memperoleh pemahaman matematika yang
menyenangkan dan juga belajar keterampilan hidup seperti ketekunan, kerja sama,
dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurut Bruner (1966), siswa akan belajar
lebih efektif jika mereka mengalami proses belajar mereka sendiri melalui
aktivitas konkret. Prinsip ini sejalan dengan pendekatan belajar melalui
pengalaman, yang menekankan pengalaman langsung sebagai cara untuk mendapatkan
pemahaman tentang ide.
Menggabungkan pertanian ke dalam
pelajaran matematika membantu siswa menghargai alam dan pentingnya ketahanan
pangan. Kegiatan di luar ruangan seperti bertani memberi anak-anak kesempatan
untuk bergerak, menghirup udara segar, dan mengasah keterampilan motorik karena
anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan layar ponsel saat ini. Oleh karena
itu, melibatkan aktivitas bertani dalam pengajaran matematika merupakan
strategi pembelajaran yang mengintegrasikan teori dengan situasi dunia nyata.
Ini lebih dari sekadar metode alternatif. Guru dapat mengubah tugas sesuai usia
dan kemampuan siswa. Ini termasuk pengukuran sederhana hingga analisis data
hasil panen. Pada akhirnya, siswa tidak hanya memperoleh kemampuan berhitung,
tetapi mereka juga menemukan bahwa matematika adalah bagian penting dari
kehidupan sehari-hari mereka.
###
Penulis: Sabila
Widyawati
Dokumentasi: Pinterest