Mengapa Literasi Digital Lebih Luas dari Hanya Bisa Mengoperasikan Ponsel Pintar?
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ponsel pintar telah menjadi alat yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, dan kemampuan untuk mengoperasikannya sudah dianggap sebagai kebutuhan di era modern. Namun, literasi digital adalah konsep yang jauh lebih luas dan mendalam daripada sekadar bisa menggunakan HP – ia mencakup serangkaian keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang diperlukan untuk hidup dan bekerja secara efektif di dunia yang semakin terhubung secara digital.
Salah satu alasan utama mengapa literasi digital lebih luas adalah karena ia tidak hanya fokus pada perangkat tertentu, melainkan pada pemahaman tentang teknologi digital secara keseluruhan dan bagaimana menggunakannya dalam berbagai konteks. Seseorang mungkin dapat mengoperasikan HP dengan baik, tetapi tidak mampu menggunakan komputer untuk pekerjaan kantor, atau tidak dapat memahami cara kerja sistem digital di bidang transportasi atau kesehatan. Literasi digital mengajak kita untuk melihat teknologi sebagai bagian dari kehidupan yang lebih luas, bukan hanya sebagai alat yang digunakan melalui ponsel.
Literasi digital juga mencakup aspek kognitif dan sosial yang tidak ada dalam kemampuan mengoperasikan HP. Secara kognitif, ia melibatkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengolah informasi dengan efektif. Secara sosial, ia meliputi pemahaman tentang etika digital, bagaimana berkomunikasi dan bekerja sama di ruang digital, serta bagaimana menggunakan teknologi untuk membangun hubungan yang positif. Misalnya, seseorang yang melek digital tidak hanya bisa mengirim pesan di HP, tetapi juga mampu menyampaikan ide dengan jelas dan hormat di forum online, atau bekerja sama dengan rekan kerja dari daerah berbeda melalui platform kolaborasi digital.
Di wilayah Surabaya dan Jawa Timur, kebutuhan literasi digital yang komprehensif semakin terasa seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital dan penerapan teknologi di berbagai sektor. Banyak perusahaan mulai mengharuskan calon karyawannya memiliki keterampilan digital yang luas, bukan hanya kemampuan menggunakan HP. Selain itu, pemerintah juga terus mendorong penggunaan teknologi dalam pelayanan publik, sehingga masyarakat yang hanya bisa mengoperasikan ponsel mungkin akan kesulitan mengakses layanan tersebut dengan maksimal.
Perlu dipahami bahwa kemampuan mengoperasikan ponsel pintar adalah dasar yang baik, tetapi bukan akhir dari perjalanan menuju literasi digital. Dengan menyadari bahwa literasi digital lebih luas dan lebih mendalam, kita dapat lebih aktif dalam mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan. Hal ini tidak hanya akan memberikan manfaat pribadi, tetapi juga membantu membangun masyarakat yang lebih cerdas, inklusif, dan mampu bersaing di tingkat global di era digital yang terus berkembang.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah