Mengembalikan Marwah Etika di Tengah Arus Kompetisi Nilai Rapor
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Arus kompetisi untuk mendapatkan nilai rapor tertinggi telah menciptakan tekanan sosial yang sangat massif bagi para siswa sekolah dasar di seluruh penjuru Indonesia. Dalam pusaran kompetisi ini, marwah etika sering kali dikorbankan demi mendapatkan legitimasi kesuksesan yang bersifat simbolis dan angka-angka belaka. Banyak orang tua yang tidak segan menuntut sekolah untuk memberikan nilai tinggi tanpa memperhatikan proses perkembangan mental dan integritas anak yang sebenarnya. Tekanan ini memaksa guru dan siswa untuk fokus pada hasil akhir sehingga mengabaikan proses internalisasi nilai-nilai kejujuran dan saling menghargai. Kita perlu melakukan refleksi mendalam mengenai arah pendidikan kita agar tidak terperosok lebih jauh ke dalam jurang degradasi moral yang sangat merugikan.
Erosi etika di tengah kompetisi nilai rapor terlihat dari meningkatnya kasus ketidakjujuran akademik seperti menyontek dan plagiarisme di kalangan siswa usia dini. Perilaku ini merupakan bentuk adaptasi yang salah terhadap sistem pendidikan yang lebih menghargai skor akhir daripada orisinalitas pemikiran dan kejujuran proses belajar. Jika dibiarkan, pola perilaku ini akan terus terbawa hingga mereka menduduki jabatan publik atau profesional di masa depan yang berpotensi merusak struktur kenegaraan. Penting bagi institusi pendidikan untuk mengembalikan standar kehormatan diri siswa dengan menempatkan etika sebagai indikator utama keberhasilan belajar di sekolah. Nilai rapor harus dipandang sebagai deskripsi perjalanan pertumbuhan manusia secara utuh, bukan sekadar alat untuk melakukan segregasi sosial antar-individu.
Mengembalikan marwah etika memerlukan keberanian sistemik untuk merombak cara kita mengevaluasi keberhasilan pendidikan secara nasional maupun di tingkat satuan pendidikan. Evaluasi harus mencakup observasi perilaku harian, partisipasi sosial, dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan konflik secara bijaksana dan bermartabat dalam kelompoknya. Guru harus diberikan otonomi penuh untuk memberikan nilai yang objektif berdasarkan pengamatan mendalam terhadap perkembangan budi pekerti setiap siswa yang mereka bimbing. Lingkungan sekolah harus menjadi zona integritas di mana tindakan tidak terpuji mendapatkan konsekuensi edukatif yang tegas tanpa memandang status sosial orang tua siswa. Dengan menciptakan ekosistem yang menjunjung tinggi etika, siswa akan belajar bahwa integritas adalah mata uang yang paling berharga dalam kehidupan sosial mereka.
Selain itu, peran media dan masyarakat luas sangat berpengaruh dalam menggeser standar kesuksesan dari pencapaian materialistik menuju pencapaian karakter yang mulia. Penghargaan bagi siswa berprestasi tidak boleh hanya didasarkan pada skor tertinggi, tetapi juga pada kontribusi mereka dalam menciptakan harmoni dan empati di sekolah. Perlu ada kampanye yang masif mengenai pentingnya adab sebelum ilmu agar generasi muda kita memiliki fondasi yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman. Pendidikan adalah proses pemuliaan manusia, sehingga setiap elemen di dalamnya harus beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip pemuliaan martabat kemanusiaan yang hakiki. Kita harus bangga memiliki anak yang jujur meskipun nilainya rata-rata, daripada memiliki anak dengan nilai sempurna namun hasil dari cara yang tercela.
Sebagai kesimpulan, perjuangan mengembalikan marwah etika di tengah arus kompetisi nilai rapor adalah perjuangan untuk menyelamatkan jati diri bangsa Indonesia. Kita tidak boleh membiarkan sekolah berubah menjadi arena gladiator yang hanya mementingkan kemenangan angka namun membunuh rasa empati dan kejujuran antarsiswa. Masa depan bangsa yang adil dan makmur hanya dapat dibangun oleh individu-individu yang memiliki komitmen etis yang kuat di tengah godaan zaman. Mari kita dukung setiap upaya untuk memprioritaskan pendidikan karakter sebagai ruh utama dari seluruh aktivitas akademik di sekolah dasar nasional kita. Dengan demikian, nilai rapor akan kembali memiliki makna spiritual yang mendalam sebagai tanda kemajuan peradaban manusia Indonesia yang sesungguhnya.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.