Menggugat Romantisme Alam dan Membangun Pikiran Ekologis Kritis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Narasi tentang alam sering kali dibalut romantisme yang menenangkan. Hutan digambarkan damai, sungai tampak jernih, dan manusia ditempatkan sebagai pengagum setia. Gambaran ini memang indah, tetapi menyimpan persoalan laten. Romantisme berlebihan justru menjauhkan individu dari realitas ekologis yang kompleks dan penuh konflik. Alam dipuja tanpa dipahami, dikagumi tanpa dikritisi. Akibatnya, kepedulian lingkungan berhenti pada rasa kagum, bukan tindakan bermakna. Di sinilah pentingnya menggeser pendekatan dari romantisme menuju pemikiran ekologis yang kritis.
Pemikiran ekologis kritis mengajak individu melihat alam apa adanya, dengan segala kerentanan dan ketegangan yang menyertainya. Alam bukan ruang steril yang bebas dari dampak aktivitas manusia. Ia adalah sistem dinamis yang terus berubah akibat interaksi sosial dan ekonomi. Dengan memahami hal ini, individu tidak lagi terjebak pada ilusi keharmonisan semu. Sebaliknya, muncul kesadaran bahwa menjaga alam membutuhkan keputusan sulit dan konsistensi. Kepedulian tidak lagi bersifat emosional semata, tetapi rasional dan berjangka panjang.
Pola pikir kritis ini juga mendorong individu mempertanyakan narasi dominan tentang pembangunan. Banyak kemajuan dipromosikan sebagai solusi, padahal menyisakan persoalan ekologis tersembunyi. Ketika generasi muda diajak membedah kontradiksi ini, mereka belajar melihat dampak yang tidak terlihat. Proses ini melatih kepekaan terhadap ketidakadilan ekologis. Alam dan manusia dipahami sebagai korban dari sistem yang timpang. Dari sini, kepedulian lingkungan berkembang menjadi kesadaran sosial yang lebih luas.
Mengubah cara berpikir tentang alam berarti menggeser posisi manusia dari pusat segalanya. Pemikiran ekologis kritis menempatkan manusia sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang saling bergantung. Kesadaran ini menantang egoisme antroposentris yang selama ini mendominasi. Individu mulai memahami bahwa keberlanjutan hidup manusia tidak terpisah dari keberlanjutan alam. Perspektif ini melahirkan sikap rendah hati terhadap lingkungan. Alam tidak lagi ditaklukkan, tetapi dihormati.
Proses membangun pikiran ekologis kritis membutuhkan keberanian intelektual. Individu perlu berani mempertanyakan kenyamanan dan privilese yang selama ini dinikmati. Tidak semua jawaban akan terasa menyenangkan. Namun, dari ketidaknyamanan inilah lahir kesadaran yang lebih matang. Kesadaran ini mendorong tindakan yang lebih konsisten dan bertanggung jawab. Kepedulian lingkungan tidak lagi bersifat reaktif, tetapi proaktif.
Dimensi etika menjadi kunci dalam pemikiran ekologis kritis. Setiap keputusan dipertimbangkan bukan hanya dari segi manfaat pribadi, tetapi juga dampaknya bagi makhluk lain. Etika ini melampaui hukum formal dan masuk ke ranah moral individu. Ketika etika ekologis tertanam, perilaku ramah lingkungan tidak membutuhkan pengawasan ketat. Ia tumbuh sebagai komitmen personal. Inilah bentuk transformasi mental yang paling signifikan.
Pada akhirnya, menggugat romantisme alam bukan berarti meniadakan keindahan. Justru sebaliknya, keindahan alam dipahami secara lebih jujur dan mendalam. Dengan pikiran ekologis kritis, generasi muda mampu mencintai alam tanpa menutup mata terhadap luka-lukanya. Cinta yang demikian melahirkan tanggung jawab nyata. Dari sinilah lahir pola pikir hijau yang tidak sekadar memuja, tetapi menjaga dengan kesadaran penuh.
###