Menghargai Karya Orang Lain di Tengah Budaya Serba Bagikan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Budaya berbagi menjadi napas utama dunia digital hari ini. Anak tumbuh dalam lingkungan di mana satu klik dapat menyebarkan gambar, tulisan, atau ide ke mana saja. Berbagi terasa menyenangkan dan wajar. Namun di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan tentang penghargaan terhadap karya orang lain. Integritas mulai diuji pada hal-hal yang tampak sepele. Dari sinilah nilai orisinalitas perlu diperkenalkan secara nyata.
Dalam keseharian, anak sering melihat konten yang dibagikan ulang tanpa keterangan. Nama pembuatnya hilang, konteksnya terpotong. Pola ini membentuk anggapan bahwa karya adalah milik bersama. Anak tidak selalu sadar bahwa ada proses dan pemilik di baliknya. Ketika anggapan ini terbawa ke dunia belajar, menyalin terasa tidak bermasalah. Padahal menghargai karya orang lain adalah bentuk kejujuran dasar.
Media sosial memberi contoh yang beragam, tidak semuanya sehat. Ada konten yang viral karena keaslian, ada pula yang populer karena tiruan. Anak menyerap semua tanpa filter nilai. Tanpa pendampingan, ia kesulitan membedakan mana yang patut diteladani. Di sinilah literasi etika digital menjadi penting. Bukan untuk membatasi, tetapi untuk membimbing.
Menghargai karya orang lain dapat dimulai dari kebiasaan kecil. Menyebut sumber, menceritakan ulang dengan kata sendiri, atau sekadar mengakui bahwa ide tersebut bukan miliknya. Kebiasaan ini melatih kesadaran moral. Anak belajar bahwa setiap karya memiliki cerita. Cerita itulah yang layak dihormati. Dari situ, integritas menemukan bentuk konkretnya.
Penghargaan terhadap karya orang lain juga berkaitan dengan empati. Anak diajak membayangkan bagaimana rasanya jika karyanya diambil tanpa izin. Empati ini menumbuhkan sikap saling menghormati. Tanpa empati, aturan hanya terasa sebagai kewajiban. Dengan empati, nilai menjadi bagian dari diri. Integritas pun tumbuh lebih kuat.
Dalam praktik sehari-hari, anak yang terbiasa menghargai karya orang lain lebih berhati-hati dalam bertindak. Ia tidak asal membagikan atau menyalin. Sikap ini terbawa ke berbagai aspek kehidupan. Kejujuran tidak lagi bersifat situasional. Ia menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan inilah karakter dibangun.
Pada akhirnya, budaya serba bagikan tidak harus bertentangan dengan integritas. Keduanya bisa berjalan berdampingan jika disertai kesadaran. Anak belajar bahwa berbagi juga berarti bertanggung jawab. Bertanggung jawab pada sumber dan proses. Dari sanalah orisinalitas dan kejujuran menemukan ruangnya di dunia digital.
Penulis: Resinta Aini Z.