Mengintegrasikan Kesehatan Mental ke dalam Pembelajaran Harian di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kesehatan mental siswa
seringkali terabaikan di tengah kesibukan dunia pendidikan yang semakin
menuntut prestasi akademik. Meskipun demikian, anak-anak usia sekolah dasar
sedang melalui tahap penting dalam pembentukan kepribadian mereka, keterampilan
sosial mereka, dan keseimbangan emosional mereka. Tekanan akademik, kebutuhan
lingkungan, dan perubahan sosial dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka.
Akibatnya, sekolah harus memprioritaskan pencapaian nilai serta kesejahteraan
mental siswa. Sangat bijaksana untuk memasukkan pendidikan kesehatan mental ke
dalam kegiatan belajar sehari-hari untuk menciptakan lingkungan belajar yang
lebih sehat dan manusiawi.
Guru sangat penting dalam
menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kesehatan mental. Misalnya,
lakukan sesi refleksi singkat sebelum kelas dimulai, berbagi cerita positif,
atau bermain permainan sederhana yang meningkatkan rasa terima kasih dan kerja
sama. Metode ini meningkatkan kepercayaan diri siswa dan mendorong mereka untuk
belajar. Pembelajaran yang ramah emosi juga membantu siswa mengatasi stres dan
belajar cara yang sehat untuk menghadapi kegagalan. Agar anak-anak dapat
mengungkapkan perasaan mereka tanpa takut dihakimi, sekolah dapat mengadakan
kegiatan seperti "hari tanpa tekanan", pojok curhat, atau jurnal
emosi harian.
Integrasi kesehatan mental tidak
memerlukan kurikulum baru, tetapi dapat melekat dalam kegiatan belajar yang
sudah ada. Misalnya, saat pelajaran Bahasa Indonesia, siswa bisa diminta
menulis pengalaman yang membuat mereka bahagia; di pelajaran PPKn, mereka bisa
berdiskusi tentang cara menghargai perbedaan; atau dalam Seni Budaya, mereka
mengekspresikan perasaan lewat gambar dan musik. Dengan begitu, setiap mata
pelajaran menjadi sarana untuk menumbuhkan keseimbangan antara kecerdasan
kognitif dan emosional. Sekolah dasar yang menerapkan pembelajaran seperti ini
akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga
kuat secara mental, empatik, dan siap menghadapi tantangan hidup di masa depan.
###
Penulis: Sabila Widyawati
Dokumentasi: Pinterest