Menilik Nasib Ruang Kelas yang Terabaikan di Pelosok Nusantara
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Nasib ruang kelas di pelosok nusantara sering kali luput dari perhatian publik dan pemangku kebijakan karena letaknya yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan dan media. Banyak gedung sekolah yang sudah berdiri puluhan tahun tanpa pernah mendapatkan sentuhan perbaikan hingga kondisinya kini sangat membahayakan keselamatan jiwa para siswa. Pemandangan dinding yang retak, lantai tanah, serta atap yang nyaris runtuh masih menjadi realita harian yang pahit bagi anak-anak yang sedang berjuang menuntut ilmu. Terabaikannya fasilitas ini merupakan bentuk kegagalan sistem pengawasan infrastruktur yang seharusnya mampu menjangkau setiap satuan pendidikan secara adil dan merata. Kita perlu menilik kembali prioritas pembangunan kita agar sekolah-sekolah di ujung negeri tidak lagi menjadi anak tiri dalam anggaran pendidikan nasional yang melimpah.
Ketidakakuratan data dalam sistem informasi sarana prasarana sekolah sering kali menjadi penyebab utama terabaikannya sekolah-sekolah rusak di wilayah yang terisolasi secara komunikasi. Laporan yang disampaikan dari tingkat daerah menuju pusat terkadang tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan akibat adanya kendala birokrasi atau upaya menutup-nutupi kelemahan kinerja. Akibatnya, alokasi anggaran renovasi sering kali salah sasaran dan lebih banyak terserap oleh sekolah-sekolah yang secara fisik masih tergolong layak huni di kota. Pemerintah perlu melakukan audit independen dan verifikasi faktual secara langsung guna memastikan tidak ada lagi sekolah yang tertinggal dalam peta pembenahan infrastruktur. Transparansi data adalah kunci untuk mengembalikan hak anak-anak pelosok dalam mendapatkan ruang belajar yang representatif dan memberikan rasa aman yang utuh.
Kurangnya keterlibatan sektor swasta dalam program tanggung jawab sosial perusahaan di wilayah operasional mereka juga turut memperparah kondisi keterabaian sekolah di pelosok negeri. Banyak perusahaan besar yang mengeksploitasi sumber daya alam di daerah terpencil namun kurang memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan fasilitas pendidikan di sekitarnya. Pemerintah harus mendorong skema kemitraan yang lebih mengikat antara perusahaan dan sekolah lokal guna mengakselerasi pembangunan sarana prasarana tanpa hanya bergantung pada dana negara. Kolaborasi yang harmonis antara pemerintah, swasta, dan masyarakat adat akan menciptakan sistem pendukung yang kuat bagi keberlangsungan kualitas fisik sekolah dasar. Sekolah harus menjadi pusat peradaban di pelosok yang didukung oleh kepedulian bersama dari seluruh pemangku kepentingan ekonomi dan sosial di wilayah tersebut.
Secara psikologis, belajar di ruang kelas yang terabaikan dapat menurunkan martabat dan motivasi siswa karena mereka merasa tidak dihargai oleh negara sebagai warga negara yang setara. Lingkungan fisik yang kumuh dan rusak mengirimkan pesan negatif bahwa pendidikan di wilayah tersebut bukanlah prioritas yang dianggap penting bagi kemajuan bangsa. Guru-guru yang bertugas di pelosok juga mengalami beban mental tambahan karena harus selalu waspada terhadap potensi bencana fisik bangunan saat menjalankan tugas mulianya. Rehabilitasi sekolah di pelosok nusantara bukan hanya soal semen dan batu bata, melainkan soal pemulihan kehormatan dan semangat juang anak-anak bangsa yang paling gigih. Kita memiliki hutang sejarah untuk segera membenahi setiap sudut ruang kelas yang pernah kita lupakan demi kejayaan Indonesia di masa depan yang akan datang.
Sebagai simpulan, menilik nasib ruang kelas yang terabaikan adalah panggilan moral bagi setiap individu yang memiliki nurani dan kepedulian terhadap keadilan pendidikan nasional. Kita tidak boleh bangga dengan kemajuan teknologi di kota besar selama masih ada adik-adik kita yang harus bertaruh nyawa di bawah atap sekolah yang keropos. Target nol sekolah rusak 2026 harus benar-benar menyentuh wilayah paling luar dan terjauh agar makna kemerdekaan belajar dapat dirasakan oleh seluruh rakyat secara nyata. Mari kita suarakan aspirasi para pendidik dan siswa di pelosok agar jeritan mereka terdengar sampai ke meja para pengambil keputusan di pusat ibu kota negara. Dengan perhatian yang tulus dan tindakan yang cepat, kita dapat mengubah ruang kelas yang terabaikan menjadi tempat lahirnya pemimpin-pemimpin hebat bagi bangsa ini di kemudian hari.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.