Menolak Menjadi Plagiator Cilik: Membangun Integritas Akademik di Era Generative AI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan
dasar saat ini tengah menghadapi badai etik yang cukup serius; penggunaan
ChatGPT untuk mengerjakan PR telah melahirkan fenomena "plagiator
cilik" yang melakukan kecurangan tanpa rasa bersalah. Sepanjang semester
ini, banyak pendidik mengeluhkan hilangnya rasa tanggung jawab pribadi siswa
terhadap tugas mereka, karena mereka merasa bahwa "teknologi ada untuk
memudahkan segala hal". Jika bibit-bibit ketidakjujuran intelektual ini
dibiarkan tumbuh subur sejak usia dini, maka fondasi moral pendidikan kita akan
runtuh dan digantikan oleh budaya pragmatisme yang berbahaya bagi masa depan
bangsa.
Data sosiologis di
lingkungan sekolah menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa menggunakan AI untuk
tugas rumah sering kali kehilangan kebanggaan atas prestasi mereka sendiri.
Mereka menyadari bahwa nilai tinggi yang mereka peroleh adalah hasil kerja
algoritma, yang secara psikologis dapat menurunkan harga diri intelektual dan
motivasi internal untuk benar-benar menguasai suatu ilmu. Integritas bukan
hanya soal nilai, tetapi soal bagaimana seorang anak menghargai proses kerja
keras dan kejujuran dalam berproses—sesuatu yang sama sekali tidak diajarkan
saat mereka hanya melakukan copy-paste dari layar gawai.
Pihak sekolah dan orang
tua harus mulai bersinergi dalam mendefinisikan kembali apa yang dimaksud
dengan "bantuan belajar" dan apa yang dimaksud dengan
"kecurangan digital". Memberikan gawai tanpa literasi etis adalah
bentuk pengabaian terhadap pertumbuhan karakter anak. Siswa SD perlu diajarkan
sejak dini bahwa menggunakan pikiran orang lain (atau pikiran mesin) tanpa
pengakuan adalah bentuk pencurian intelektual yang akan merusak integritas
mereka sebagai manusia pembelajar di masa depan.
Sebagai solusi, kurikulum
harus mulai mengintegrasikan pendidikan etika digital sebagai subjek inti yang
setara dengan literasi dan numerasi. Penugasan sekolah harus dirancang
sedemikian rupa sehingga memaksa siswa untuk menyertakan referensi pribadi atau
wawancara langsung, yang sulit dilakukan secara manipulatif oleh AI. Dengan
memperkuat integritas sejak bangku dasar, kita sedang menanamkan jangkar moral
yang kuat agar generasi masa depan tidak mudah terombang-ambing oleh
kemudahan-kemudahan digital yang menyesatkan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah