MENUMBUHKAN RASA INGIN TAHU ANAK MELALUI PROJECT-BASED LEARNING DI KELAS AWAL
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Anak-anak usia sekolah dasar, khususnya di kelas awal, berada dalam
masa keemasan untuk membentuk karakter belajar dan rasa ingin tahu. Sayangnya,
metode pembelajaran konvensional yang masih mendominasi sering kali belum mampu
menggugah semangat eksplorasi dan kreativitas anak. Di sinilah model Project-Based
Learning (PjBL) hadir sebagai pendekatan yang tidak hanya mengaktifkan
siswa dalam proses belajar, tetapi juga mendorong mereka untuk menjadi
penjelajah pengetahuan sejak dini. Melalui proyek yang nyata dan kontekstual,
siswa tidak hanya belajar apa yang harus dipelajari, tetapi juga mengapa dan
bagaimana mereka mempelajarinya.
Penerapan
PjBL di kelas awal SD menuntut pendidik untuk mampu menyusun proyek sederhana
namun bermakna, seperti membuat poster lingkungan, membuat miniatur rumah ramah
energi, atau merancang kebun kelas. Aktivitas semacam ini mendorong
keterlibatan aktif, kerja sama kelompok, dan pemecahan masalah. Namun,
tantangan seperti keterbatasan waktu, perbedaan kemampuan siswa, dan adaptasi
guru terhadap model ini tidak bisa dihindari. Dibutuhkan pelatihan, sumber
belajar yang mendukung, dan komunikasi yang baik dengan orang tua agar proyek
dapat dijalankan secara optimal.
PjBL
terbukti mampu menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dengan cara yang menyenangkan
dan bermakna. Anak-anak menjadi lebih aktif bertanya, mengeksplorasi, dan
percaya diri dalam menyampaikan hasil temuannya. Selain itu, mereka juga
belajar menghargai proses, bekerja dalam tim, dan mengembangkan tanggung jawab
terhadap tugas yang diemban. Pembelajaran proyek di kelas awal bukan sekadar
metode, tetapi pendekatan yang membangun fondasi karakter belajar seumur hidup.
Dengan komitmen guru dan dukungan lingkungan sekolah yang inklusif, rasa ingin
tahu anak dapat terus dipupuk demi mencetak generasi pembelajar sepanjang
hayat.
###
Penulis: Sevian
Dokumentasi: Freepik