Merosotnya Ketekunan Belajar: Apakah Budaya Instan yang Sebabkan?
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pernyataan bahwa budaya instan menjadi penyebab utama merosotnya ketekunan belajar di kalangan generasi Z seringkali muncul dalam berbagai diskusi tentang pendidikan masa kini. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa budaya instan memiliki pengaruh yang signifikan, namun masalah ini tidak dapat disalahkan pada satu faktor saja.
Budaya instan memang memberikan lingkungan di mana kecepatan dan hasil segera menjadi prioritas. Platform digital yang dirancang untuk memberikan kepuasan instan, seperti media sosial dengan jumlah suka dan komentar yang muncul secara langsung, atau mesin pencari yang memberikan jawaban dalam hitungan detik, telah membentuk pola pikir generasi Z bahwa segala hal dapat diperoleh dengan cepat. Hal ini membuat mereka sulit untuk bersabar dalam proses belajar yang membutuhkan waktu dan usaha berkelanjutan.
Namun, faktor lain juga turut berperan dalam merosotnya ketekunan belajar, seperti sistem pendidikan yang terkadang terlalu fokus pada nilai dan ujian, sehingga membuat siswa lebih peduli dengan hasil akhir daripada proses pembelajaran. Selain itu, kurangnya dukungan dari orang tua dan lingkungan juga dapat membuat generasi Z merasa tidak termotivasi untuk belajar dengan ketekunan. Di Surabaya, banyak kasus di mana orang tua lebih memperhatikan nilai anak daripada proses yang mereka lalui, sehingga anak-anak cenderung mencari cara tercepat untuk mendapatkan nilai yang diinginkan.
Selain itu, kurangnya pemahaman tentang tujuan belajar yang sebenarnya juga menjadi faktor penyebab. Banyak generasi Z tidak jelas mengapa mereka harus belajar dengan giat dan tekun, sehingga mereka mudah terpengaruh oleh budaya instan yang menawarkan kesenangan dan hasil segera. Mereka melihat belajar sebagai kewajiban yang harus diselesaikan, bukan sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri dan mencapai impian mereka.
Jadi, meskipun budaya instan merupakan faktor penting yang berkontribusi pada merosotnya ketekunan belajar, namun masalah ini adalah hasil dari kombinasi berbagai faktor. Untuk mengatasinya, diperlukan pendekatan yang menyeluruh yang tidak hanya menangani pengaruh budaya instan, tetapi juga memperbaiki sistem pendidikan, meningkatkan peran orang tua, dan membantu generasi Z memahami tujuan penting dari belajar dengan ketekunan.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah