Metode Pembelajaran Kinestetik: Ketika Gerak Jadi Bahasa Belajar
S2dikdas.fip.unesa.ac.id. SURABAYA— Di sebuah sekolah dasar di pinggiran Kota
Surabaya, suasana kelas berbeda dari biasanya. Anak-anak tidak hanya duduk diam
di bangku sambil menyalin pelajaran dari papan tulis. Mereka tampak aktif
bergerak—melompat, menepuk tangan, menirukan gerakan hewan, bahkan berjalan
mengikuti arah mata angin sambil bernyanyi. Semua itu bukan permainan semata.
Mereka sedang belajar. Inilah wajah dari metode pembelajaran kinestetik, sebuah
pendekatan belajar yang menjadikan gerak tubuh sebagai bahasa utama dalam
memahami materi.
Metode pembelajaran kinestetik kini
mulai mendapat tempat dalam dunia pendidikan, terutama di jenjang sekolah
dasar. Di tengah tantangan menjaga fokus anak-anak yang mudah bosan dan
gelisah, metode ini hadir sebagai solusi. Bukan dengan memperbanyak hafalan
atau menambah jam duduk, melainkan dengan mengubah tubuh menjadi alat utama
belajar.
Mengapa ini penting? Karena tidak
semua anak belajar dengan cara yang sama. Beberapa siswa mudah memahami
pelajaran lewat membaca atau mendengarkan, tapi sebagian besar anak usia dini
justru lebih efektif belajar sambil bergerak. Mereka adalah pembelajar
kinestetik—yang menangkap informasi lebih baik lewat aktivitas fisik. Bagi
mereka, menghafal kosakata lebih mudah saat diiringi gerakan tangan, atau
belajar berhitung menjadi lebih menyenangkan ketika dilakukan sambil melompat
di lantai berpetak angka.
Metode ini juga bukan sekadar membuat
kelas jadi "rame". Justru sebaliknya, aktivitas fisik membantu otak
bekerja lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa gerakan tubuh meningkatkan
aliran darah ke otak, memperkuat ingatan, dan membangun keterhubungan antara
konsep abstrak dengan pengalaman nyata. Inilah yang menjadikan belajar jadi
lebih menyenangkan sekaligus bermakna.
Beberapa guru telah mempraktikkannya
secara kreatif. Misalnya, saat belajar geometri, siswa diajak membentuk bangun
datar dengan tubuh mereka. Untuk mengenal hewan, siswa bisa bergerak dan
bersuara meniru binatang yang dipelajari. Bahkan dalam pelajaran bahasa, siswa
bisa belajar membuat kalimat lewat drama mini dan peran bermain. Namun,
pendekatan ini juga membutuhkan kesiapan guru. Tidak cukup hanya memahami
teori, guru perlu berani mencoba hal baru, fleksibel, dan kreatif dalam
merancang aktivitas pembelajaran. Tantangan terbesar bukan dari siswa,
melainkan dari pola pikir lama yang masih menganggap bahwa belajar harus diam
dan duduk rapi.
Kini saatnya paradigma itu diubah.
Gerakan bukan bentuk gangguan, melainkan jembatan belajar. Ketika tubuh ikut
terlibat, pikiran pun bekerja lebih hidup. Dan bukankah hakikat pendidikan
adalah membangkitkan seluruh potensi manusia, bukan hanya aspek kognitif?
dengan pendekatan kinestetik, pendidikan bisa menjadi lebih menyentuh dan
menyenangkan. Karena sejatinya, anak-anak bukan hanya makhluk pemikir, tetapi
juga makhluk bergerak. Dan ketika gerak menjadi bahasa belajar, maka setiap
langkah, tepuk, dan lompatan bisa menjelma menjadi jendela pengetahuan.
Penulis: Shevila Salsabila Al Aziz
Sumber: Google