Refleksi Januari dan Pendidikan yang Tidak Takut pada Pertanyaan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Bulan Januari sering diisi dengan rencana dan target yang padat. Namun, di penghujungnya, muncul ruang untuk bertanya dengan lebih tenang. Refleksi akhir Januari mengajak melihat kembali pendidikan sebagai ruang pertanyaan, bukan sekadar ruang jawaban. Dalam banyak praktik, pendidikan terlalu cepat menutup pertanyaan dengan kepastian. Padahal, kemampuan bertanya adalah inti dari pembelajaran yang hidup. Pertanyaan membuka ruang eksplorasi dan pemaknaan. Tanpa pertanyaan, pendidikan kehilangan daya kritisnya. Inilah alasan mengapa refleksi ini menjadi penting bagi warisan pendidikan generasi depan.
Pendidikan yang tidak takut pada pertanyaan memberi ruang bagi rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu adalah motor utama pembelajaran sepanjang hayat. Ketika pertanyaan dihargai, individu merasa diakui secara intelektual. Mereka belajar bahwa ketidaktahuan bukan kelemahan, melainkan titik awal belajar. Sikap ini menumbuhkan keberanian untuk terus mencari. Generasi depan membutuhkan keberanian ini untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
Refleksi akhir Januari juga menyoroti bagaimana pertanyaan membentuk cara berpikir kritis. Pertanyaan yang baik mendorong analisis dan refleksi mendalam. Pendidikan yang menumbuhkan budaya bertanya melatih kemampuan memilah informasi. Di tengah banjir informasi, kemampuan ini menjadi sangat penting. Generasi depan tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengevaluasinya. Pendidikan berfungsi sebagai benteng terhadap manipulasi.
Pendidikan yang ramah terhadap pertanyaan juga menciptakan ruang dialog yang sehat. Perbedaan pandangan tidak langsung dipatahkan, tetapi didiskusikan. Proses ini melatih toleransi intelektual dan empati. Generasi depan belajar menghargai argumen orang lain. Dialog menjadi sarana pertumbuhan bersama. Pendidikan berubah menjadi ruang perjumpaan gagasan.
Refleksi akhir Januari mengingatkan bahwa pertanyaan juga memiliki dimensi etis. Pertanyaan tentang dampak sosial dan moral perlu terus diajukan. Pendidikan tidak hanya menumbuhkan kecerdasan teknis, tetapi juga kepekaan etis. Generasi depan belajar mempertimbangkan konsekuensi dari pengetahuan yang dimiliki. Kesadaran ini membentuk tanggung jawab sosial. Pendidikan menjadi sarana pembentukan karakter.
Budaya bertanya juga menuntut kerendahan hati intelektual. Individu belajar bahwa pengetahuan selalu bersifat sementara dan terbuka untuk diperbarui. Sikap ini mencegah arogansi intelektual. Generasi depan tumbuh dengan kesadaran bahwa belajar tidak pernah selesai. Pendidikan menjadi proses seumur hidup. Kerendahan hati ini penting dalam menghadapi kompleksitas dunia.
Pada akhirnya, refleksi Januari menegaskan bahwa pendidikan yang tidak takut pada pertanyaan adalah pendidikan yang hidup. Pertanyaan menjaga pembelajaran tetap relevan dan dinamis. Warisan pendidikan semacam ini membekali generasi depan dengan daya kritis dan empati. Inilah fondasi penting untuk membangun masa depan yang lebih bijak. Pendidikan menemukan maknanya dalam keberanian untuk terus bertanya.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah