Natal 2025 dan Pembelajaran Toleransi di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Perayaan Hari Raya Natal pada 25 Desember 2025 menjadi momen penting bukan hanya bagi umat Kristiani, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia secara luas yang hidup dalam keberagaman agama dan budaya. Di ruang publik, Natal kerap diwarnai dengan pesan damai, kasih, dan kebersamaan, yang menjadikannya relevan sebagai bahan refleksi sosial. Dalam konteks pendidikan, khususnya pendidikan dasar, Natal dapat dimaknai sebagai peristiwa sosial yang sarat nilai kemanusiaan dan kebhinekaan.
Sekolah dasar memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan nilai-nilai toleransi sejak dini. Guru dapat memanfaatkan momentum Natal sebagai sarana pembelajaran sosial tanpa memasuki wilayah ajaran doktrinal agama tertentu. Pendekatan ini penting agar pembelajaran tetap inklusif dan menghormati keyakinan setiap siswa. Misalnya, guru dapat mengajak siswa berdiskusi tentang makna berbagi, kepedulian terhadap sesama, serta tradisi kebersamaan yang sering muncul dalam perayaan akhir tahun.
Melalui diskusi kelas, cerita, atau aktivitas reflektif, siswa diperkenalkan pada keberagaman tradisi yang ada di sekitar mereka. Anak-anak belajar bahwa setiap agama memiliki cara sendiri dalam merayakan nilai kebaikan dan kedamaian. Proses ini membantu siswa memahami perbedaan sebagai bagian alami dari kehidupan bermasyarakat, bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti atau dijauhi.
Pembelajaran multikultural seperti ini sangat penting bagi siswa sekolah dasar yang sedang berada pada tahap awal pembentukan sikap sosial. Ketika sejak kecil anak diajak memahami dan menghargai perbedaan, mereka akan tumbuh menjadi individu yang lebih terbuka, empatik, dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu intoleransi. Pendidikan dasar menjadi fondasi kuat bagi terciptanya masyarakat yang rukun dan saling menghormati.
Pendekatan pembelajaran ini sejalan dengan SDGs 4.7, yang menekankan pentingnya pendidikan nilai global, penghormatan terhadap keberagaman budaya, serta pendidikan kewargaan yang inklusif. Selain itu, nilai-nilai yang ditanamkan juga mendukung SDGs 16, khususnya dalam membangun budaya damai, keadilan sosial, dan masyarakat yang inklusif sejak usia dini.
Dengan memanfaatkan perayaan Natal sebagai konteks pembelajaran, sekolah dasar tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada penguatan kompetensi sosial dan emosional siswa. Anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar hidup bersama dalam perbedaan. Inilah esensi pendidikan holistik yang mempersiapkan generasi muda menjadi warga negara yang cerdas, berkarakter, dan berjiwa toleran.
# # #
Penulis: Nabila Mutiara Febriyanti